Senin, 20 April 2026
Opini

Gerakan Mahasiswa Kini

“Apakah rakyat masih percaya dengan gerakan mahasiswa saat ini?”

Fatur Pradana

(Mahasiswa Universitas Primagraha)


BANTENLINE.COM | OPINI – Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya.

Sejarah panjang keberadaan Indonesia sekarang ini sering dipahami oleh masyarakat Indonesia sebagai suatu proses perjuangan yang cukup panjang dari sebuah keluarga.

Sejarah Indonesia yang panjang tersebut sering dianalogikan dengan sebuah perjalanan yang sudah barang tentu tidak harus dibayangkan lurus. Pembentukan Indonesia sekarang ini dimulai dengan pergerakan generasi muda yang dimotori oleh mahasiswa yang dimulai oleh keberadaan sejumlah titik yang merupakan tonggak sejarah.

Tonggak sejarah pergerakan yang merupakan penanda yang sangat penting dari suatu perjalanan adalah angkatan-angkatan yang memiliki karakteristik dan corak tersendiri. Angkatan tersebut dalam proses perjuangan panjang dimulai dari angkatan 1908, angkatan 1928, angkatan 1945, angkatan 1966, angkatan 1971 dan angkatan 1998 yang mana hampir semua pergerakan dari masing angkatan tersebut dimotori oleh mahasiswa yang merupakan bagian dari Agent of Change.

Setelah 18 tahun masa reformasi berjalan, banyak sekali pertanyaan dan kegundahan yang terjadi dalam pikran rakyat terhadap aktivisme gerakan Mahasiswa. Slogan atau Mitos mahasiswa sebagai agent of change sangat jauh dari realita yang ada sekarang ini.

Aktivitas mahasiswa sekarang ini lebih banyak dan bangga jadi peserta tepuk tangan di acara-acara TV, pengembira dalam acara-acara serimonial, duduk manis di pusat perbelanjaan atau di tempat nongkrong modern yang mana semua aktivitas tersebut sangat jauh dari hiruk pikuk kesusahan dan kesulitan hidup rakyat kecil.

Di sana mereka dapat leluasa berbicara tentang mode pakaian, artis, film terbaru dan populer dan selalu mencibir setiap kali ada demo yang memacetkan jalan yang memperjuangkan hak masyarakat kecil dan terpinggirkan. Sehingga kehidupan para mahasiswa pada era tahun 80-an kembali lagi di jaman sekarang ini yang sering dibuat jargon oleh masyarakat umum bahwa mahasiswa tidak lebih sebagai “menara gading” yang kehidupannya sangat rapuh.

Baca Juga:  Sengketa Lahan Kampung Dukuh, Majelis Hakim Vonis Bebas Ahli Waris

Gerakan mahasiswa sering kali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Oleh sebab itu pertengahan tahun 1980 – 1990 gerakan mahasiswa dimulai dari pertemuan IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) di Jakarta, kemudian berlanjut pertemuannya di Unsoed Purwokerto.

Baru pada tahun 1987 diadakan aksi mahasiswa pertama di Institut Seni Indonesia dengan mengatasnamakan FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta) yang menghadang Mendikbud Fuad Hasan saat membuka Pameran Purna Tugas mengajar Widayat.

Adapun tuntutan mahasiswa adalah dicabutnya NKK/BKK. Adapun FKMY adalah gabungan dari mahasiswa ISI, UMY, Janabadra, UGM, UII dan IAIN Sunan Kalijaga. Itulah awal dari gerakan mahasiswa melalukan aksi demonstrasi setelah paska diberlakukannya NKK/BKK yang dibuat oleh Mendikbud Daud Joesoef.

Setelah itu gerakan pada era itu menjadi tonggak ketika kaaus tanah menjadi perekat aktivis di berbagai daerah. Sehingga sampai pada puncaknya tahun 1993 dengan aksi FAMI (Front Aksi Mahasiswa Indonesia dengan spanduk “Seret Soeharto Ke Sidang Istimewa” dan kemudian ditangkap dan dijebloskan penjara sejumlah 21 mahasiswa dan diadili dengan kurungan 9 bulan – 3 tahun.

Gerakan Mahasiswa Kini

Gerakan aksi demo mahasiswa yang terpecah menjadi lima kubu diduga ada penunggang gelap sehingga tidak terlihat solid. Kejadian ini tentunya sangat disayangkan, karena semua tahu, gerakan mahasiswa itu murni. Jika benar terjadi perpecahan bagaimana rakyat bisa percaya pada gerakan mahasiswa.

Untuk direzim saat ini gerakan mahasiswa terpecah menjadi lima. Dikhawatirkan ini mencerminkan kondisi politik yang sesungguhnya, sehingga terlihat ada kelompok atau fraksi-fraksi sebanyak 5 itu.

Lima gerakan mahasiswa yang pecah, pertama BEM SI Rakyat Bangkit yang ketuanya mahasiswa dari Universitas Riau, kedua BEM SI Kerakyatan, ketiga BEM Nusantara kubu Eko, dan keemat BEM Nusantara kubu Dimas. BEM Nusantara banyaknya dari Kota Surabaya.

Baca Juga:  HUT ke 152 Pandeglang Ketua PC IPNU Kritik 6 Point URGENT!!!

Lalu yang terakhir adalah Aliansi Mahasiswa Indonesia, yang didalamnya ada BEM UI, yang minggu kemarin lakukan aksi di tugu tani. Pertanyaannya adalah ke mana arah gerakan mahasiswa sebenarnya?

Sebagai sebuah era demokrasi di mana kebebasan berpendapat, dan ruang berekspresi terbuka seluas-luasnya, era reformasi menghadirkan kenyataan baru bagi masyarakat, khususnya mahasiswa yang hidup di dalamnya.

Kalaulah di dua periode rezim pemerintahan Soekarno dan Soeharto, orientasi gerakan mahasiswa lebih bersifat politik karena musuh utama mereka adalah penguasa, maka hal ini berbeda di era reformasi.

Gejala kehilangan orientasi tampak terlihat di masa-masa transisi pasca reformasi. Organisasi mahasiswa baik intra maupun ekstra universiter seperti tak bisa lepas dari warisan heroik aktivis generasi sebelumnya. Mereka seolah terbuai dengan jejak sejarah masa lalu lantas menyamakan bentuk perjuangan mereka dengan kondisi saat ini.

Dengan dalih menyuarakan kebenaran, kebanyakan kelompok organisasi pun seolah mencari-cari ‘musuh’ yang akhirnya hanya saling caci maki antar organisasi, mencari-cari kelemahan kelompok lain, bahkan lebih anarkis tawuran antar mahasiswa. Ujung-ujungnya masyarakat bingung dengan ulah para generasi intelektual yang seharusnya ada di tengah-tengah mereka mencari jalan kesejahteraan bersama.

Dengan demikian dampak yang terjadi adalah kejenuhan dialami sebagian mahasiswa karena arah organisasi sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan kondisi saat ini. Akhirnya banyak mahasiswa mencari jalan dengan membentuk komunitas-komunitas yang mampu membangun gairah produktifitasnya sebagai mahasiswa.

Jika di masa orba mereka membentuk forum altenatif karena tekanan penguasa, maka kali ini lebih diakibatkan kejenuhan nuansa organisasi. Oleh karenanya kita perlu mengembalikan lagi peran mahasiswa sebagai seorang aktor intelektual.

Tinggalkan Balasan