Sabtu, 18 April 2026
NasionalPendidikan

Waketum MUI : Kemerdekaan Merupakan Sarana Mensyukuri Karunia Allah

BANTENLINE.COM, Jakarta — 17 Agustus ditetapkan sebagai tanggal kemerdekaan Republik Indonesia yang selalu diperingati setiap tahunnya.

Wakil ketua (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Marsyudi Suhud mengungkapkan merdeka adalah membangun bangsa dengan menjunjung persatuan dan kesatuan.

“Merdeka adalah membangun untuk terus menjaga kemaslahatan warga bangsanya, merdeka adalah bersatu padu untuk menciptakan peradaban yang maju, yang diridhoi Allah SWT,” ucap Kyai yang juga merupakan pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah itu pada Selasa (16/8/2022).

Lebih jelas dirinya menyampaikan bahwa peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ini merupakan sarana untuk mensyukuri karunia Allah SWT kepada bangsa Indonesia yang berupa Kemerdekaan RI dari penjajahan.

Baca Juga:  Pimpinan Daerah Gorontalo Bersatu, Dukung Fauzan Fadel Muhammad Memperkuat Peran KADIN dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

“Peringatan HUT Ke – 77 RI merupakan sarana untuk mensyukuri nikmat Allah SWT, dimulai dari ” Merdeka ” Bangsa Indonesia membangun seluruh aspek Jasmaniyah (madiah) dan ( ruuhiyah ) karena pada prinsipnya sebuah Negara didirikan adalah untuk membangun. لقد صار أمر الدولة وبناؤها ضرورة من الضرورات، سواء من جهة عمارة الكون، ام من جهة الحفاظ على مصالح أبنائها,” ujarnya saat dihubungi oleh tim media pada Selasa (16/8).

Selaras dengan hal tersebut, dirinya juga menuturkan bahwasanya negara memiliki tanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan bangsa.

“Urusan membangun negara adalah sebuah keharusan, baik pembangunan infrastruktur dan lainnya, gunanya untuk menjaga kemaslahatan anak bangsa,” tuturnya.

Baca Juga:  Langkah Strategis KNPI Banten: Bangun Kolaborasi dengan Ditjenpas Menuju MUSDA 2026

Selanjutnya, Kyai yang aktif merespon isu isu internasional ini menegaskan bahwa seorang warga negara lebih baik hidup di negra yang kuat.

“Seseorang yang faqir hidup di negara merdeka, kaya, kuat bersatu dan taat hukum itu lebih baik dari pada seorang kaya, hidup di negara konflik, perang dan lemah. Karena jika negara kuat, negara akan mengurus yang faqir dan miskin, namun jika hidup di negara yang kacau dan perang walaupun kaya, siapa yang akan bisa menolongnya,” tegasnya.

Dhea Oktaviana

Tinggalkan Balasan