Senin, 25 Mei 2026
Opini

Ibuku Pahlawanku

Oleh: KH. Febrianto S. Ag,. M, Si | Kabag Kesra Pemkab Serang, Sekum Wantim MUI Serang, dan Katib PCNU Serang.

BANTENLINE.COM | OPINI – Kaum Ibu pada masa Rasulullah SAW, pernah mengajukan protes. Mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh Rasulullah SAW, karena tidak diberi kesempatan yang sama dengan kaum pria dalam masalah jihad fi sabilillah.

Di bawah komando Asma’ binti Yazid al Anshariyah, para ibu yang ada di kota Madinah beramai-ramai menghadap Rasulullah SAW. Dan di hadapan Beliau, Asma’ menyampaikan aspirasi kaum ibu, yakni menuntut diperlakukan sama dengan kaum pria.
Mendengar pemaparan kaum ibu tersebut, sambil tersenyum Rasulullah menjelaskan bahwa peran kaum ibu sama nilainya dengan jihad di medan perang. Rasulullah berkata, “Wahai Asma! Ketahuilah dan sampaikanlah kepada para ibu lainnya bahwa Islam tidak mendiskreditkan kaum wanita. Ketahuilah, perempuan yang melayani suaminya dengan baik, mencari kerelaannya dan mengikuti apa yang telah menjadi kemauannya, sama pahalanya dengan berjihad di jalan Allah”.

Kisah yang berbeda terjadi pada masa modern. Konon sebelum bunuh diri, Marilyn Monroe menulis sepucuk surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga supermodel paling populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya menjalani kehidupan di dunia ini. Dalam surat peninggalannya, ia berpesan sebagai beriukut:


“…Waspadailah popularitas wahai wanita. Waspadailah setiap kegemerlapan yang menipumu. Saya adalah wanita termalang di muka bumi ini, sebab tidak bisa menjadi seorang ibu. Sesungguhnya wanita itu seharusnya menjadi penghuni rumah utama. Kehidupan berumah tangga dan berkeluarga secara mulia di atas segalanya. Sesungguhnya kebahagiaan wanita yang hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga yang mulia dan suci. Kehidupan berumah tangga adalah simbol kebahagiaan wanita.”

Dua penggalan kisah berbeda zaman diatas, jika dicermati memiliki benang merah, yakni tentang keinginan kaum ibu eksis di tengah masyarakat. Baik dialog antara kaum ibu di kota Madinah dengan Rasulullah SAW, maupun surat berisi untaian isi hati Marilyn Monroe, keduanya memiliki kesamaan makna. Yakni, tentang mulianya keberadaan ibu. Ibu rumah tangga seperti Asma misalnya, ingin mengekspresikan diri lebih dari sekedar menjaga gawang “rumah tangga”, lebih dari itu yakni membesarkan dan mendidik anak serta mendampingi suami dalam suka dan duka.

Sementara dari surat wasiatnya, nampak sekali bahwa sebenarnya Monroe berharap bisa menjadi seorang ibu yang baik. Ia menyadari, bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita adalah ketika ia mampu menjadi ibu, melahirkan anak, mendidiknya, membesarkannya, menjadikan mereka generasi yang taat kepada orangtua, dan generasi penerus perjuangan yang akan mampu mewujudkan peradaban mulia. Monroe mampu ikut mewarnai dunia dengan kehidupannya yang glamor. Akan tetapi, ia gagal mencegah dirinya agar tidak terjerumus pada jebakan dunia berupa hedonisme dan sejenisnya.

Baca Juga:  Ketum DPP.PMN : Membela DASCO TOKOH PERSATUAN, bukan Pemecah Belah Bangsa, itu Guyonan Cinta, Jangan Berpikir NEGATIF

Tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah diatas dapat menjadi cerminan peran kaum ibu dan calon ibu dalam mengisi peradaban dunia. Al-Qur’an mencatat sejumlah kisah perempuan yang memiliki integritas intelektual dan moral yang tinggi. Mereka memiliki peran dan pengaruh besar dalam sosialisasi risalah samawi. Balqis, sang ratu dari negeri Saba misalnya, merupakan salah seorang figur perempuan yang amat melegenda. Kisah perjalanan kekuasaannya bersama Nabi Sulaiman sangat populer, karena dicatat oleh seluruh kitab-kitab agama samawi. Kisah-kisah detil tentang Balqis antara lain terdapat dalam buku “Shafwatut-Tafasir” jilid II halaman 408, karya Muhammad Ali Ash-Shabuni.

Selain Balqis, ada banyak ibu rumah tangga yang menjadi teladan dalam sejarah bangsa-bangsanya, antara lain yakni Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahin AS. Berikutnya Siti Hajar, istri kedua Nabi Ibrahim AS. Selain dikenal sebagai istri Nabi, keduanya dikenal sebagai pejuang rumah tangga yang ulet.

Berikutnya adalah Siti Rahmah, istri Nabi Ayub AS. Meski memiliki wajah cantik, namun ia masih setia mendampingi Nabi Ayub yang penderita penyakit komplikasi. Meski Nabi Ayub sudah menyarankan agar Siti Rahmah meninggalkannya, namun wanita setia itu tak pernah beranjak dari sisi suaminya yang terbaring bertahun-tahun.

Demikian pula Siti Aisyah, istri Fir’aun. Perjuangannya dalam menegakkan akidah sangat mengagumkan. Statusnya sebagai permaisuri raja besar namun zalim tak menggoyahkan keimannya tentang keesaaan Tuhan.

Lihat juga kehidupan Siti Aisyah binti Abu Bakar Siddik RA, istri Muhammad SAW. Selain cantik, Aisyah juga wanita cerdas dan alim. Ia adalah orator ulung yang piawai membawakan syair-syair terkenal. Ia adalah guru tafsir yang handal. Dalam masalah hadits, ia telah meriwayatkan sedikitnya 2.210 hadits.

Mari kita menelaah fenomena ini di Tanah Air, peran kaum ibu dari masa ke masa juga sangat luar biasa. Sejarah mencatat, sejak negeri ini masih terdiri atas kerajaan-kerajaan kecil, kaum ibu sudah menunjukkan peran dan kualitas mereka sebagai pemimpin. Kerajaan Aceh misalnya, sejak 1641-1699 berturut-turut dipimin oleh seorang ibu. Ketika itu, Aceh sudah menjadi pusat kajian dan perkembangan dakwah Islam. Akan tetapi, para fukoha Aceh ketika itu tidak mempersoalkan maslah gender dalam sistem tata negara mereka.

Dalam ensiklopedi militer, kita juga mengenal nama-nama panglima perang wanita yang gagah berani. Mereka antara lain Ratu Kalinyamat, puteri Sultan Trenggana (Jepara), Cut Nyak Din (Aceh) dan Nyi Ageng Serang (Jawa Tengah).

Baca Juga:  KNPI BANTEN : Tidak boleh ada Oknum Kriminalisasi serta Dukung Dinas ESDM Banten dan PT BBI, Jangan Hambat Pengusaha Lokal yang Legal agar APBD Banten Meningkat untuk masyarakat sejahtera

Pada abad ke-19 kita juga mengenal sejumlah ibu rumah tangga yang menjadi cahaya penerang kegelapan pada eranya. Sebut saja misalnya M. Christina Tiahahu, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.

Kita perkecil tela’ah atas fenomena ini dalam sejarah perkembangan Banten, kita mengenal sejumlah srikandi-srikandi yang luar biasa hebat. Pada masanya, mereka berjasa besar mengantarkan Banten ke pintu zaman keemasan. Para ibu pejuang Banten itu antara lain itu Ratu Kaug Anten sang permaisuri Syarif Hidayatullah.

Wanita teladan itu melahirkan seorang putra yang kelak menjadi legenda kisah-kisah rakyat Banten, yaitu Sultan Maulana Hasanuddin. Para pendekar wanita Banten lainnya antara lain Ratu Salamah, Ratu Latifah, dan Ratu Masmudah. Makam ketiga wanita perkasa itu terletak di sebelah selatan masjid Agung Banten.

Dari tahun ke tahun, sensus penduduk selalu menempatkan perempuan sebagai mayoritas. Namun, hingga kini masih banyak kaum perempuan yang belum mampu memberdayakan diri.

Dalam konteks ini, sepatutnya organisasi kaum hawa lebih mengonsentrasikan program-program kerjanya pada masalah pemberdayaan dan pengembangan SDM perempuannya, bukan berkutat di kegiatan seremonial saja.

Termasuk yang tidak boleh luput dari perhatian kaum hawa adalah pendidikan politik. Kita patut bersykur, karena undang-undang di negeri ini telah menjamin kaum perempuan untuk bisa mengembangkan potensi diri, sehingga sejajar dengan kaum lelaki. Jaminan yuridis tersebut seperti tercantum pada UUD 1945 pasal 27 ayat 1. Pasal tersebut berbunyi, “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kekecualian.”


Sementara pasal 30 (1) berbunyi, “Tiap-tap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara.” Lebih tegas, dukungan moril untuk kaum perempuan dinyatakan pula dalam TAP MPR Nonomor II/1993.

Hemat saya, berbicara tentang Hari Ibu sama dengan bercermin pada sejarah peradaban kaum hawa dari masa ke masa. Perjuangan para perempuan tersebutlah yang mengilhami lahirnya Hari Ibu. Yang tidak boleh kita abaikan, bahwa Hari Ibu merupakan saat di mana kita mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini.

Dengan demikian, dengan melihat jasa-jasa yang tak terhingga dari kaum hawa yang menjelma ibu, kita patut menyatakan bahwa Ibu adalah pahlawan yang sesungguhnya. Terimakasih teruntuk para Ibu. Terkhusus Ibuku, Pahlawanku.

Tinggalkan Balasan