Senin, 25 Mei 2026
Opini

Tertawa Bersama Tuhan

Oleh : Muhammad Uqel Assathir

Hidup, ya begini ini. Yang datang dan pergi silih berganti. Suka dan duka terkadang mampir tanpa pernah diduga. Masalah tak pernah mau mengalah jika tanpa diatasi. Hidup ya begitu itu.

Ujian yang datang tak usah dikembalikan kepada Tuhan. Terima saja sambil tertawa. Toh Tuhan tidak seserius yang kita pikirkan kala Ia memberi ujian. Senyum-senyum Tuhan di sana sambil bercanda Ia bilang, “Nih tak kasih ujian, tapi tolong hadapi dengan santai, ujian ini tidak lebih dari batas yang kamu mampu untuk mengatasinya kok.”

Tuhan memang begitu, namanya juga ujian, paling lama sebulan. Tidak berlaku seumur hidup. Kalau seumur hidup, Tuhan bisa kita katakan keterlaluan.
Bicara memang gampang, menulis agak susah, dan bertindak adalah hal paling rumit. Jadi, tulisan ini direkayasa, supaya semuanya terlihat mudah.
Tapi biarlah, semoga tulisan ini mencerahkan, utamanya bagiku sendiri.

Baca Juga:  Ketum DPP.PMN : Membela DASCO TOKOH PERSATUAN, bukan Pemecah Belah Bangsa, itu Guyonan Cinta, Jangan Berpikir NEGATIF

Mulailah tertawa menghadapi ujian hidup. Terlalu larut dalam sedih, cuma menambah lipatan kerut di jidat. Tuhan saja tidak serius, lalu kenapa kita dibuat pusing dengan ujian yang hanya sekedar candaan. Kita lebih keterlaluan kalau begitu. Tidak punya adab. Tuhan bercanda, kok kita malah tidak tertawa.
Tertawa saja. Mau selesai atau tidak masalah yang kita punya, itu urusan nomor ke sekian.
Yakin saja. Itu urutan paling pertama yang harus kita punya. Dengan Tuhan kita bisa tertawa di keheningan malam.

Baca Juga:  KNPI BANTEN : Tidak boleh ada Oknum Kriminalisasi serta Dukung Dinas ESDM Banten dan PT BBI, Jangan Hambat Pengusaha Lokal yang Legal agar APBD Banten Meningkat untuk masyarakat sejahtera

Meresapi nyanyian sendu angin. Menikmati cahaya redup bulan. Saat kebanyakan manusia terbuai mimpinya, kita malah mencurahkan semua keluh kesah pada-Nya. Ingat lho ya, sambil humor juga katakan pada-Nya, “Han, sebagaimana Engkau mengujiku sambil bercanda, kumohon kali ini temani aku tertawa untuk menemukan jalan keluarnya.”
Mesra dan meromantiskan malam. Seolah tiada yang lain mengganggu. Tanpa malu dan ragu kau ceritakan semuanya. Tentang skripsimu, tentang hutang-hutangmu, tentang rumah tanggamu, tentang apapun. Ia adalah Pendengar yang Mahabaik.

Tinggalkan Balasan