BANTENLINE.COM, BANDUNG BARAT, — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak berhenti sebagai seremoni keagamaan. Di Yayasan Al-Muttaqin, Kampung Kebon Hui, Desa Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, momentum kelahiran Rasulullah justru dikembangkan menjadi ruang perjumpaan antara dakwah, seni tradisi, pendidikan karakter, kepedulian sosial, dan regenerasi budaya.
Salah satu perhatian utama masyarakat tertuju pada Pagelaran Wayang Ajen Junior yang menghadirkan dalang cilik Aden Azka Asstroberi Putra. Dalam pertunjukan bertajuk Cepot Nyantri dengan kisah Gatotkaca Yuda, Aden tampil ekspresif dan penuh energi selama 45 menit di hadapan ratusan jamaah serta masyarakat yang memadati area Yayasan Al-Muttaqin.
Pagelaran tersebut menjadi bagian dari rangkaian Safdahati Istifal—Safari Dakwah & Haflah Tilawah Al-Qur’an Qori Nasional & Tabligh Akbar, yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan turut diisi Parade Seni Islam Tradisional, program Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berupa santunan anak yatim, serta Pasar Murah Program Fraksi PKB.
Hadir dalam kegiatan tersebut puluhan tokoh agama, tokoh masyarakat, ratusan jamaah dari berbagai daerah, dan masyarakat sekitar. Salah satunya Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat dari Fraksi PKB, H. Ade Wawan, M.Pd.I.
Wayang sebagai Bahasa Dakwah
Yang menarik dari pagelaran tersebut adalah cara pesan keagamaan dikemas melalui bahasa seni yang dekat dengan masyarakat.
Di tangan dalang cilik Aden Azka Asstroberi Putra (9 thn), kisah Gatotkaca tidak hanya menjadi tontonan heroik. Adegan peperangan antara Gatotkaca dan prajurit Kerajaan Gilingwesi yang menyimpan dendam atas kematian Prabu Naga Percona diolah menjadi gambaran tentang keberanian seorang ksatria dalam mempertahankan kebenaran dan melindungi negeri Amarta.
Gatotkaca tampil gagah, lincah, dan penuh semangat patriotisme. Gerakan wayang yang dinamis berpadu dengan musik dan vokal yang ekspresif sehingga membangun atmosfer dramatik yang kuat.
Namun kekuatan pertunjukan tidak berhenti pada adegan perang
Kemunculan para Panakawan seperti Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng menghadirkan humor, kelucuan, dan kritik sosial khas punakawan. Di balik dialog yang mengundang tawa, Cepot menyampaikan pesan dakwah yang sangat serius mengenai empat sifat utama Nabi Muhammad SAW: Shiddiq, Tabligh, Amanah, dan Fathanah.
Empat sifat tersebut diterjemahkan menjadi pesan kehidupan yang relevan dengan kondisi masyarakat masa kini: kejujuran di tengah derasnya informasi palsu, keberanian menyampaikan kebenaran, tanggung jawab dalam menjaga kepercayaan, serta kecerdasan yang digunakan untuk kemaslahatan.
Dengan pendekatan tersebut, pesan Maulid menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Maulid tidak sekadar mengenang Nabi Muhammad SAW, tetapi menghidupkan kembali akhlaknya dalam perilaku kehidupan keseharian.
Keteladanan Nabi sebagai Energi Perubahan
Pesan yang dibangun melalui karakter Cepot menegaskan bahwa keteladanan Rasulullah memiliki relevansi yang sangat kuat dalam kehidupan modern.
Nabi Muhammad SAW bukan hanya figur sejarah yang dikenang setiap tahun, tetapi teladan tentang bagaimana manusia membangun kehidupan berdasarkan kejujuran, amanah, kecerdasan, kasih sayang, keberanian, dan tanggung jawab.
Dalam konteks kehidupan sosial hari ini, nilai tersebut menjadi semakin penting. Shiddiq mengajarkan bahwa kejujuran bukan sekadar ucapan, tetapi fondasi kepercayaan. Tabligh mengajarkan keberanian menyampaikan kebenaran dengan hikmah. Amanah mengingatkan bahwa setiap tanggung jawab harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Fathanah menegaskan pentingnya kecerdasan yang tidak hanya menghasilkan kemampuan, tetapi juga kebijaksanaan.
Dari panggung wayang, pesan tersebut disampaikan dengan cara yang sederhana, menghibur, tetapi tetap substantif. Inilah salah satu kekuatan seni tradisi: ia mampu mengubah nilai yang abstrak menjadi pengalaman yang dapat dirasakan, dilihat, didengar, dan direnungkan oleh masyarakat.
Aden Azka dan Masa Depan Pedalangan Indonesia
Penampilan Aden Azka Asstroberi Putra menjadi bukti bahwa regenerasi pedalangan tidak harus menunggu generasi dewasa. Dengan usia yang masih sangat muda, Aden mampu mengendalikan karakter wayang dengan gerakan lincah, membangun ekspresi tokoh, mengatur dinamika adegan, serta membawa penonton mengikuti perubahan suasana pertunjukan.
Kemampuannya dalam membawakan karakter Gatotkaca menunjukkan potensi yang kuat. Sosok ksatria tersebut tampil gagah dan heroik, sementara pada bagian punakawan Aden mampu menghadirkan suasana yang lebih cair dan jenaka.
Perpindahan karakter dan suasana tersebut memperlihatkan bahwa seorang dalang tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis memainkan wayang, tetapi juga membutuhkan kepekaan dramatik, musikalitas, kemampuan komunikasi, keberanian, dan kecerdasan membaca situasi penonton.
Aden merupakan putra H. Asep Haerlusna dengan Hj. Tati, Owner RM Asstroberi, yang turut memberikan dukungan terhadap proses tumbuhnya kecintaan generasi muda terhadap seni budaya.
Dengan pembinaan yang konsisten, pengalaman panggung yang semakin luas, dan pendidikan seni yang berkelanjutan, Aden memiliki potensi untuk menjadi salah satu talenta penting dalam regenerasi pedalangan Indonesia.
Didukung Musisi Muda Lulusan ISBI Bandung
Pertunjukan semakin kuat dengan dukungan para pemusik dan penyanyi yang merupakan lulusan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.
Kolaborasi antara dalang cilik dengan para seniman muda tersebut menghasilkan pertunjukan yang dinamis. Musik, vokal, gerak wayang, dan dramatika adegan menyatu secara kompak dan ekspresif.
Musik tidak ditempatkan hanya sebagai pengiring, tetapi menjadi bagian dari konstruksi suasana pertunjukan—menguatkan ketegangan peperangan, membangun karakter, sekaligus memberikan ruang bagi humor dan pesan moral.
Kolaborasi lintas generasi ini memperlihatkan bahwa regenerasi seni tradisi dapat dibangun melalui ekosistem: anak sebagai talenta baru, seniman muda sebagai penguat artistik, mentor sebagai pengarah, dan masyarakat sebagai ruang apresiasi.
Mengembalikan Wayang ke Ruang Kehidupan Keagamaan
Kehadiran Wayang Ajen Junior dalam peringatan Maulid Nabi juga membuka kembali diskursus penting mengenai posisi wayang dalam kehidupan religius masyarakat Indonesia.
Wayang dan dalang memiliki sejarah panjang sebagai media pendidikan moral, spiritual, dan sosial. Karena itu, menghadirkan wayang dalam kegiatan keagamaan merupakan bagian dari upaya menjadikan kebudayaan sebagai medium komunikasi nilai.
Syiar Islam melalui budaya bukan berarti mengurangi substansi agama. Sebaliknya, budaya dapat menjadi bahasa yang membuat pesan agama lebih dekat, komunikatif, dan kontekstual.
Ketika Cepot berbicara tentang kejujuran, amanah, kecerdasan, dan keberanian menyampaikan kebenaran, nilai agama tidak hadir sebagai doktrin yang jauh dari kehidupan, melainkan sebagai refleksi atas persoalan masyarakat sehari-hari.
Di sinilah wayang menemukan kembali salah satu kekuatan historisnya: menjadi seni yang menghibur sekaligus mendidik; seni yang mengakar pada masyarakat sekaligus mampu membawa pesan spiritual.
Dari Pelestarian Menuju Ekosistem Budaya
Pagelaran Wayang Ajen Junior di Yayasan Al-Muttaqin juga merupakan bagian dari gagasan yang lebih besar yang dikembangkan Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi binaan Ki Dalang Wawan Ajen.
Orientasinya bukan lagi sekadar mempertahankan seni pedalangan agar tidak punah. Lebih jauh, seni tradisi didorong untuk dikembangkan, dibina, dimanfaatkan, dikolaborasikan, didokumentasikan, dan dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan zaman.
Paradigma tersebut menempatkan kebudayaan bukan sebagai benda masa lalu, melainkan sebagai ekosistem yang hidup.
Regenerasi menjadi fondasi. Pendidikan menjadi instrumen. Panggung menjadi laboratorium. Teknologi dan kreativitas menjadi alat pengembangan. Masyarakat menjadi ruang aktualisasi. Sementara nilai budaya menjadi kompasnya.
Dengan pendekatan seperti itu, pelestarian tidak lagi bersifat defensif. Tradisi tidak hanya diselamatkan dari kepunahan, tetapi diberi kesempatan untuk tumbuh, beradaptasi, dan menciptakan manfaat baru.
Panggung Kecil, Pesan Besar
Penampilan Aden Azka Asstroberi Putra di tengah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Bandung Barat pada akhirnya menyampaikan pesan yang jauh lebih besar daripada sebuah pertunjukan wayang.
Dari tangan seorang dalang cilik, wayang kembali berbicara tentang manusia, akhlak, keberanian, tanggung jawab, dan masa depan. Dari sosok Gatotkaca, anak-anak belajar tentang keberanian dan patriotisme.
Dari Semar dan para punakawan, masyarakat diajak tertawa sekaligus bercermin. Dan dari Cepot, pesan Maulid kembali ditegaskan: bahwa mencintai Nabi Muhammad SAW bukan hanya dengan mengenang kelahirannya, tetapi dengan berusaha menghadirkan nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan nyata.
Peristiwa di Yayasan Al-Muttaqin membuktikan bahwa ketika agama, budaya, pendidikan, dan kepedulian sosial dipertemukan dalam ruang yang sama, lahirlah sebuah peristiwa kebudayaan yang memiliki daya hidup.
Dalang Aden Azka mungkin masih seorang dalang cilik. Tetapi keberaniannya berdiri di balik jagat wayang hari ini adalah tanda bahwa masa depan seni pedalangan Indonesia sedang tumbuh. Dan masa depan itu tidak akan lahir hanya dari slogan pelestarian.
Ia lahir dari anak-anak yang dilatih, diberi panggung, dipercaya, dan didampingi untuk mencintai tradisinya, lalu diberi keberanian untuk membawanya menuju masa depan. Apresiasi yang tinggi melalui ruang, waktu dan peristiwa sebagai bukti mendukung secara nyata.(*)






