BANTENLINE.COM, SERANG – Empat pilar itu yakni empat tiang penyangga dalam suatu negara, dimana tiang penyangga tersebut saling berhubungan satu sama lain.
Demikian disampaikan oleh Matin Syarkowi, pimpinan Pondok Pesantren Al-Fathaniyah dalam pemaparannya dalam kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan yang bertempat di Majelis Pondok Pesantren Al-Fathaniyah Tengkele Kota Serang, Banten. Pada hari Sabtu, (26/03/22)
“Berdiri kokohnya NKRI pada akhirnya berpulang pada apakah kita masih menggunakan empat pilar
kebangsaan,” tambahnya.
Terutama dikatakan Matin, pembangunan karakter bangsa yang saling keterkaitan dengan pilar kebangsaan ini.
Oleh karenanya haruslah dalam asas yang berkesesuaian dan terintegrasi, yang bernafaskan Pancasila dan
UUD 1945 sebagai dasar konstitusional dalam kerangka NKRI
Dan juga untuk menjamin keanekaragaman budaya, suku bangsa dan agama sebagai representasi dari bhineka
tunggal ika.
Jika salah satu pondasi pilar kebangsaan itu tidak dijadikan pegangan, karakter bangsa yang dicita-citakan sekedar wacana dan angan-angan belaka.
“Maka akan goyahlah negara Indonesia disebabkan oleh hal tersebut. Jika penopang yang satu tak kuat, maka akan berpengaruh pada pilar yang lain,” katanya.
Pada akhirnya, dijelaskan Matin bukan tak mungkin Indonesia akan ambruk secara bertahap, bergantung pada seberapa jauh dan seberapa dalam kita menggunakan empat pilar kebangsaan tersebut.
Tentunya, ambruknya NKRI merupakan sesuatu yang tak diinginkan dan tak terlintas sedikitpun dalam benak kita sebagai bagian dari NKRI.
“Maka sangatlah penting bagi para santri sebagai generasi muda harapan bangsa sepatutnya menjadi ujung tombak bagi pembangunan Indonesia,” ujar Matin yang juga menjabat A’wan PBNU 2022-2027.
Pancasila yang ditetapkan oleh para pendiri negara memuat nilai-nilai luhur dan mendalam, yang menjadi pandangan hidup dan dasar negara.
Sementara itu, Ichsan Soelistio mengatakan bahwa Nilai-nilai Pancasila secara bertahap harus benar-benar diwujudkan dalam perilaku kehidupan negara dan masyarakat.
“Khususnya para pemuda sebagai generasi bangsa dan negara Indonesia,” kata Ichsan Soelistio yang merupakan Anggota Komisi III DPR-RI Fraksi PDIP.
Dikatakan Ichsan, pemuda jika dilihat dari tinjauan pendagogik selalu identik dengan pemberontakan.
Kemudian berani tapi kurang perhitungan, dinamis tapi kurang terarah, bergairah tapi asal, serta antusias tapi perlu bimbingan.
Oleh sebab itu, dituturkan Ichsan maka penting untuk memaknai nilai-nilai pancasila untuk menjadikan pemuda sebagai generasi yang memiliki keberanian.
Juga menjadikan pemuda yang bertanggung jawab dan juga sebagai pemuda yang memiliki jiwa nasionalisme.
Ichsan Soelistio memaparkan bahwa pemuda merupakan generasi penerus yang akan menjadi pemimpin bangsa dan negara Indonesia.
Dengan demikian pendidikan generasi muda sangat penting dilaksanakan untuk menciptakan generasi yang berkualitas unggul dalam tujuan berbangsa.
“Khususnya pemuda dalam menjalankan nilai-nilai yang ada dalam pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia,” ungkapnya. (Taufik Hidayat at-Tanari)






