Senin, 25 Mei 2026
Opini

Iklim Global, Sinergitas Internasional dan Kunci Indonesia di G20

Taufik Rohmatul Insan

(Mahasiswa Hukum Tata Negara di UIN SMH Banten)


BANTENLINE.COM | OPINI – Sudah dua tahun kita memasuki masa sulit sebab Pandemi. Dengan perasaan sedih kita mendata, sejak virus SARS-Cov-2 melanda Indonesia dengan kasus pertama pada 2 Maret 2020, sudah lebih dari 5,5 juta penduduk tertular Covid-19 dengan korban jiwa mencapai 148.660 jiwa. Berdasarkan kasus mingguan, Indonesia kini berada diurutan 10 tertinggi di dunia (Kompas, 2/3/22).

Sejak awal kemunculannya di Cina pada akhir tahun 2019, Pandemi Covid-19 terus bertranformasi dan berevolusi hingga merebak ke berbagai negara yang ada di dunia.

Tercatat 228 negara terdampak dan menurut data terbaru Covid-19, 2 Maret 2022, memakan korban jiwa mencapai 5.952.215 di dunia dan di Indonesia bertambah menjadi 149.036 korban jiwa.

Krisis global yang melanda dunia saat ini pada akhirnya memaksa manusia untuk menerima dengan lapang dada dengan terus berusaha melakukan penelitian dan menemukan penemuan-penemuan baru di segala bidang, terutama kesehatan. Selain itu, sinergitas negara-bangsa di dunia menjadi semakin erat terbangun untuk terus berkolaborasi dan bersama-sama bangkit dari kondisi yang mengancam eksistensi manusia.

Saya rasa untuk saat ini kita sudah mulai terbiasa dengan pola hidup baru yang tercipta sebab Pandemi Covid-19, pola hidup yang ketat dengan protokol kesehatan dan interaksi sosial yang terbatas.

Tetapi kejadian-kejadian yang mengancam kelangsungan hidup manusia tidak hanya Pandemi Covid-19, kualitas iklim bumi yang kian hari kian menghawatirkan menjadi ancaman terbesar bagi manusia kedepan, terlebih kemunculan Covid-19 dimungkinkan akibat perubahan iklim bumi dan pemanasan global.

Tepat rasanya ungkapan tokoh filsafat stoikisme, Marcus Aurelius untuk kita memandang peristiwa-peristiwa yang mengancam kehidupan umat manusia dan terus melakukan langkah-langkah kolektif-kolegial untuk kedepan, “…jika memang peristiwa ini datang dari Alam, maka terimalah dengan lapang dada. Jika tidak, cari tahulah apa yang harus kamu lakukan…”

Iklim Global dan Kemanusiaan

Perubahan iklim dunia arahnya semakin mengerikan. Semua negara sudah merasakan bencana karena perubahan iklim. Ancaman perubahan iklim berjalan kelindan dengan pembangunan di semua negara-bangsa. Semakin sejahtera masyarakat, mobilitas masyarakat semakin tinggi dan ketergantungan terhadap energi semakin besar yang menghasilkan emisi karbon yang mengancam kehidupan dunia melalui kenaikan suhu.

Perubahan iklim menjadi ancaman yang terus berkembang dan bersifat multidimensional karena ragamnya prilaku melalui pelaksanaan sistem energi, teknologi, transportasi, dan penggunaan sumber daya manusia. Imbasnya tanpa kita sadari, dampak perubahan iklim berpotensi menggoyahkan kehidupan manusia pada berbagai sektor kehidupan.

Baca Juga:  Ansor Kota Serang: Pengeroyokan Bukan Hal Biasa, Segera Tangani

Akibat perubahan iklim, bencana yang terjadi di seluruh dunia meningkat lima kali lipat dalam 50 tahun terakhir. Laporan itu disampaikan langsung oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dalam publikasinya yang dirilis pada bulan Agustus tahun 2021. Publikasi tersebut mensurvei sekitar 11.000 bencana yang terjadi antara tahun 1979 hingga tahun 2019 (Kompas, 6/9/21).

WMO juga mensurvei kejadian dan kemalangan finansial dari iklim, air, dan lingkungan yang berbahaya secara menyeluruh. Bencana paling ekstrim yang tercatat dalam 50 tahun terakhir adalah musim kemarau (1983) di Ethiopia dengan 300.000 kematian. Ini menggarisbawahi meningkatnya jumlah bencana lima kali lebih tinggi sejak tahun 1970-an hingga 10 tahun terakhir.

Fakta tersebut menunjukkan kepada kita, bahwa perubahan lingkungan dan peningkatan suhu di bumi membuat bencana dan peristiwa iklim yang parah menjadi sering terjadi di seluruh dunia.

Dalam catatan BNPB, per Maret 2021, bencana yang terjadi di Indonesia didominasi oleh bencana Hidrometeorologi, bencana yang dampaknya dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim. Dalam catatannya, 337 banjir, 144 tanah longsor dan 186 puting beliung, menerjang Indonesia.

Sinergi dan Kolaborasi Anggota G20

Bagaimana komunitas internasional memandang problem global? Sejauh ini dalam penanganan pandemi Covid-19, negara-negara G20 sudah melakukan banyak upaya, salah satunya dengan menangguhkan pembayaran utang luar negeri negara berpenghasilan rendah, Injeksi penanganan Covid-19 sebanyak 5 triliun USD lebih (Riyadh Declaration). Selain itu, G20 terus menjalankan perannya dalam isu internasional lainnya, termasuk perdagangan, pembangunan dan iklim.

Untuk tahun ini, presidensi G20 dipegang oleh Indonesia, yang sebelumnya ditetapkan pada Riyadh Summit 2020. Kepercayaan itu diterima Indonesia dari Italia pada akhir KTT Roma pada Oktober 2021. Indonesia memiliki peran penting pada gelaran G20 pada tahun ini, terlebih Indonesia secara geografis rentan terhadap bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim dan pemanasan global.

Tahun ini gelaran G20 yang dilaksanakan di Bali mengangkat tema “Recover Together, Recover Stronger,” tema yang cukup berat bagi Indonesia sebagai negara berkembang, untuk melakukan perubahan global dan menyatukan pendapat di tengah negara-negara besar dunia yang memiliki kepentingan dan masalah masing-masing.

Baca Juga:  Sejarah Berdirinya Dewan Pengurus Pusat Persatuan Moderat Nasional (DPP PMN)

Sebagai forum kerja sama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU), G20 merepresentasikan lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Melalui kekuatan tersebut, sudah seharusnya negara-negara G20 dapat berkontribusi besar pada pembangunan berkelanjutan, meningkatkan kualitas lingkungan, dan mengatasi perubahan iklim.

Indonesia sebagai tuan rumah, penting menjadi spectrum pemersatu untuk mengajak seluruh dunia menumbuhkan sinergitas, saling mendukung dan meningkatkan kolaborasi untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan. Sinergitas harus mencakup semua tingkatan, kerja sama tidak berhenti pada penurunan emisi, yang terpenting adalah penyediaan pendanaan untuk aktivitas mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di negara-negara berkembang yang paling terdampak.

Dalam hal ini, Perlu kerja sama internasional yang terbuka dan transparan demi menjaga kelestarian lingkungan hidup dalam paradigma pembangunan kemanusiaan berkelanjutan. Paradigma pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan kemanusiaan saat ini, tanpa mengorbankan kepentingan masing-masing negara anggota G20 dan kemampuan generasi mendatang untuk mencukupinya.

Perubahan iklim karena sifatnya lintas batas telah menjadi masalah global yang memerlukan upaya bersama untuk pemecahannya. Oleh karena itu, negara-negara maju perlu memberikan kontribusi nyata dalam memperbaiki lingkungan hidup, sebab mereka yang mempunyai andil terbesar atas kerusakan lingkungan dan eksploitasi lingkungan.

Di luar negara-negara G20, Indonesia perlu terus mendorong realisasi komitmen negara-negara di dunia untuk mengambil peran lebih dalam pengendalian perubahan iklim. Inisiatif Indonesia sangat penting karena merupakan salah satu negara yang mempunyai posisi paling rentan terdampak perubahan iklim atau pemanasan global bila merujuk pada Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang Kerangka Kerja Perubahan Iklim.

Indonesia sebagai negara yang diberikan kepercayaan dalam gelaran G20, diharapkan tidak hanya menjadi negara penyelenggara, tetapi menjadi kunci penting untuk kemanusiaan kedepan melalui penciptaan suasana yang semaksimal mugkin menghasilkan kesepakatan bersama dalam penanganan pandemi Covid-19 yang masih berlanjut, perubahan iklim dan pemanasan global.

G20 harus menjadi agenda rapat kemanusiaan dengan bersama-sama membangun sinergi dan berkolaborasi, merangkul negara maju dan berkembang untuk mengatasi krisis dan mewujudkan pertumbuhan global yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif. Jika tidak, masalah-masalah yang menimpa dunia pada saat ini, meminjam istilah Omar Khayyam hanya akan “menjadi teka-teki alam semesta” tanpa pernah ada penyelesaian.

Tinggalkan Balasan