BANTENLINE.COM, SERANG – Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) PK PMII UNTIRTA gelar tahap awal kaderisasi formal kopri Sekolah Islam Gender (SIG) yang dilaksanakan pada tanggal 18-20 Maret 2022 di Yayasan Ciptayasa Putra Bangsa, Ciruas, Kab Serang.
Acara tersebut mengusung tema ‘Aktualisasi Adil Gender dalam Tubuh Generasi Muda Guna Menghadapi Era Distrupsi dan Era Society 5.0’.
Dalam kegiatan tersebut, peserta SIG dituntut untuk mampu mengenal Era distrupsi dan juga Era Society 5.0 sebagai kader PMII, karena saat ini sudah masuk pada tahap digitalisasi.
Pengurus Cabang ( PC ) KOPRI Kabupaten Serang yang diwakili oleh Leni Oktaviani menjelaskan, SIG bukan kegiatan kader putri saja, tetapi untuk kader putra juga.
“SIG merupakan tahap awal kaderisasi formal yang tidak hanya wajib di ikuti oleh kader kopri saja, namun dalam SIG ini kader putra PMII pun diwajibkan untuk mengikuti. Karena untuk mengetahui dan juga memperdalam makna dari kesetaraan gender serta dapat mengaktualisasikan secara bersama peran generasi muda dalam menghadapi Era Distrupsi dan Era Society 5.0 selaku mahasiswa pergerakan,” ungkap Leni.
Disamping itu, hal yang sama disampaikan oleh Ketua KOPRI PK PMII UNTIRTA, Silviana menyampaikan bahwa SIG merupakan salah satu dari tujuh kaderisasi wajib bagi kader KOPRI.
“Jumlah tahap kaderisasi untuk KOPRI lebih banyak jika kita bandingkan dengan tahap kaderisasi kader PMII putra, karena sahabat-sahabat KOPRI harus mengikuti kaderisasi sebanyak tujuh tahap kaderisasi diantaranya MAPABA, SIG, PKD itu dalam ruang lingkup kampus atau pengurus komisariat. Setelah itu akan ada tahap kaderisasi yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang seperti SKK dan PKL. Tidak berhenti di tahap kaderisasi yang diselenggarakan Pengurus Cabang, PB PMII akan menggelar kaderisasi formal yaitu SKKN dan PKL yang seharusnya kita ikuti,” ungkap Silviana.
Lanjutnya, Silvi mengharapkan para peserta SIG mampu merealisasikannya di kehidupan sehari-hari.
“Saya harap kader-kader PMII UNTIRTA khususnya Kader KOPRI dapat mengikuti semua tahap kaderisasi di PMII, dan tujuan dari SIG ini saya harap sahabat-sahabati dapat mengaktualisasikan bentuk dari adil gender di Era saat ini yaitu era digital atau era distrupsi,” tutup Silvi.
Kemudian, Ketua Pelaksana SIG UNTIRTA 2022 Lila Dira mengungkapkan rasa sukur karena dalam penyelenggaraan SIG ini telah diikuti oleh peserta dari tiap rayon di untirta.
“Syukur Allhamdulilah, saya ucapkan terimakasih kepada seluruh peserta yang merupakan delegasi dari tiap rayon telah konsisten untuk mengikuti tahapan kaderisasi di PMII, mari ikuti kita sama-sama SIG ini dengan secara khidmat. Era digitalisasi atau yang saat ini lebih popular disebut dengan era disrupsi merupakan suatu bentuk dari kemajuan teknologi” ujarnya.
Era disrupsi dapat disandingkan dengan Era Society 5.0 karena di era digital saat ini budaya interaksi masyarakat tidak selalu dituntut untuk bertemu secara fisik.
Interaksi masyarakat sudah dapat dilakukan melalui sosial media, dan aplikasi penghubung lainnya seperti Google Meet, Zoom Meet dan lain sebagainya.
Bertepatan dengan tema yang diusung dalam SIG ini, peserta SIG telah mendapatkan materi terkait dengan ‘Tantangan Kaum Muda dalam Menghadapi Era disrupsi dan 5.0’.
Dalam materi ini telah menjelaskan, bagian-bagian yang harus segera dilakukan oleh kader PMII selaku mahasiswa pergerakan dan kaum muda intelektual, seperti dalam sisi Industri Kreatif, Soft Skill Menulis dan lain sebagainya.
“Di era kemajuan teknologi, tugas kita selaku kaum muda harus mampu menjadi aktor penting dalam melesatnya kemajuan era disrupsi ini. Kaum muda harus dapat memanfaatkan momentum yang sudah seharusnya menjadi ruang untuk pengembangan diri. Seperti menjadi aktor dalam industri Kreatif dan memperdalam soft skill dalam menulis bukan hanya menjadi konsumen saja.”
Demikian yang disampaikan oleh Rahman Wahid selaku pemateri dalam SIG UNTIRTA 2022.
“Sebetulnya untuk menjadi aktor penting dalam industri kreatif ini, sahabat-sahabat cukup mudah dalam melakukannya. Dengan cara menggunakan berbagai aplikasi dan juga sosial media dengan secara kreatif dan bijak, contohnya adalah kita bisa menjual dan memasarkan produk-produk lokal melalui aplikasi market place seperti Shoppe, Lazada, Toko Pedia dan lain-lain yang memberikan kita keuntungan besar jika sudah mampu memasarkan produk sampai kancah nasional maupun internasional,“ lanjutnya.
“Industri Kreatif ini tidak hanya dilakukan dalam sisi digital marketing saja, penggunaan aplikasi lainnya yang mampu diakses oleh banyak orang bahkan satu dunia seperti Instagram, Youtube, dan Tiktok dapat kita manfaatkan eksistensinya. Bagi sahabat-sahabat yang memiliki bakat dan juga fashion seperti menari, bernyayi dan lain sebagainya silahkan dikembangkan dan diperkenalkan melalui aplikasi tersebut dengan cara mengunggah video-video tersebut untuk mejadi konten yang bermanfaat bagi penonton,“ terangnya.
“Narasi yang menyatakan bahwa jejak digital itu kejam, namun jika kita menggunakan digitalisasi ini dengan kreatif dan bijak serta memberikan manfaat untuk orang banyak. Maka akan berubah maknanya, karena jejak digital akan mengabadikan karya-karya kita melalui unggahan konten dalam aplikasi atau pun web tersebut,“ tutupnya. (Wahid)






