Ditulis oleh: Ketua PKC PMII Banten, Winah Setiawati
Bantenline.com, Opini – Idul Adha tidak semata hari raya ritual, melainkan sebuah momentum spiritual untuk menakar ulang kadar ketakwaan, keikhlasan, dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, kurban bukan hanya penyembelihan hewan, tapi juga latihan jiwa untuk menundukkan hawa nafsu dan menempatkan amanah Allah di atas kepentingan duniawi.
Di tengah gema takbir yang menggetarkan langit, hati nurani umat terusik oleh kabar duka dari Raja Ampat—surga laut Indonesia yang mulai terancam oleh tambang nikel. Eksploitasi alam atas nama pembangunan yang tidak mempertimbangkan kerusakan lingkungan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai tauhid dan amanah keadilan sosial.
Menurut pandangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah, manusia adalah penjaga bumi, bukan penguasa semena-mena. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan pentingnya maslahah (kebaikan umum) dan amanah dalam setiap tindakan manusia. Maka, ketika alam dirusak demi tambang, itu bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga spiritual dan moral.
Idul Adha seharusnya menjadi refleksi—bahwa berkurban bukan hanya soal daging, melainkan tentang rela meninggalkan ambisi pribadi demi maslahat yang lebih besar. Jika Ibrahim AS bersedia mengorbankan anak tercintanya demi ketaatan, sudahkah kita rela mengorbankan kepentingan sesaat demi menyelamatkan warisan bumi bagi generasi mendatang?
Raja Ampat bukan hanya kekayaan Indonesia, tapi amanah Allah. Dan Idul Adha adalah panggilan untuk kembali pada kesadaran tauhid: bahwa bumi ini bukan milik kita, melainkan titipan yang harus kita jaga, bukan kita eksploitasi.






