BANTENLINE.COM 26 Oktober 2022
Dakwah berbasis digital atau riya berbasis dakwah digital”
Berdakwah di media tentu sangat di butuhkan di era saat ini
Namun di kalangan kita para santri yang berada di daerah-daerah pada khuusunya.
Selain karna keterbatasan pengetahuan terhadap mengakses hal yang berkaitan dengan dunia digital, kita juga terlalu takut kalo sesuatu yang di lakukan lewat media hanya akan bernilai di dunia tapi tidak jadi sesuatu yang bernilai di mata tuhan.

Ketakutan itu bukan tidak berdasar karna di kalangan santri tentu sudah familiar dengan kitab Ta’lim Muta’alim di dalam kitab itu ada kalimat :
كم من عمل يتصور بصورة عمل الدنيا، ثم يصير بحسن النية من أعمال الآخرة
وكم من عمل يتصور بصورة عمل الآخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية
(Kam min ‘amalin yatashowwaru bishuroti ‘amali dunya tsuma yashiru bihusnin niyati min a’maalil aakhiroti
Wa kam min ‘amalin yatashowwaru bi shuroti a’maalil aakhiroti tsuma yashiru min a’maali dunya bisuuinniyyati).
Banyak amal perbuatan yang berbentuk amal dunia, lalu menjadi amal akhirat karna baik/bagusnya niat dan ada banyak bentuk amal akhirat karena buruk niatnya maka menjadi amal dunia”.
Saya kira para santri terlalu khawatir dakwah dengan media justru hanya berarti di dunia saja tapi tidak ada artinya di akhirat karna sulitnya menjaga niat sehingga di benak para santri khususnya kami sebagai penulis ada dua hal yang terfikirkan antara dakwah yang berbasis digital atau justru riya yang berbasis dakwah digital. Kita menyadari selalu ada ikhtilaf dalam segala sikap. Kita juga meyakini segala perbuatan itu tergantung niat انماالاعمال بالنيات (innamal a’maalu binniyat)
(sesungguhnya segala perbuatan/amal itu tergantung niatnya) Kalimat ini lah yang semakin menguatkan pentingnya berdakwah secara digital selain karna jangkauannya lebih luas ini juga bagian dari pengimbang tontonan-tontonan yang tidak bisa jadi tuntunan atau bacaaan yang bisa menyebabkan salah pemahanan,tentu ini juga sebagai pengimbang dakwah dari orang yang tidak memiliki sanad keilmuan yang jelas,karna di kalangan santri meyakini betul sanad (mata rantai dalam sebuah keilmuan) adalah bagian terpenting dalam berdakwah. Penulis teringat apa yang di katakan oleh Al Imam Abdullah bin Mubarok
“الاسناد من الدين ولولاالاسنادلقال من شاء ما شاء ” al Isnadu minaddin, wa lau laa al isnadu laqoola man sya’a ma sya’a” “Isnad adalah bagian dari agama. Kalau urusan isnad tidak diperhatikan, maka setiap orang bisa bicara apa saja sekehendak hatinya” dari kalimat inilah kita seharusnya sebagai santri yang meyakini sanad ke ilmuan adalah sesuatu yang penting harus mulai berdakwah lewat media digital di era ini banyak sekali orang yg lebih tertarik membaca atau belajar lewat media digital sementara yang mereka baca atau pelajari dari orang yang tidak jelas secara sanad keilmuanya. Hal ini tentu Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya orang-orang yang minim pemahaman secara agama ketika mendapatkan hidayah untuk hijrah namun salah dalam membaca dan memahaminya. Banyak orang yang yang tidak punya sanad keilmuan yang jelas namun mampu berdakwah dengan memanfaatkan media online baik lewat facebook,twiter,blog,youtub,tiktok,instagram dan sebagainya sementara kita para santri yang sudah jelas sanad keilmuannya masih belum berani, belum mampu, dan belum menguasai cara berdakwah lewat media.
Sebagai penutup saya kira pentingnya agar ada upaya dari pemerintah atau lembaga islami seperti MUI misalnya untuk mengadakan pelatihan tentang cara membuat vidio dakwah yang menarik, cara menulis di media, cara bicara di depan kamera dan atau apapun itu yang berkaitan dengan media elektronik kepada para santri.
Terimakasih sudah membaca mohon untuk koreksinya
Selasa 25 Oktober 2022
Penulis: Syauqil Habib






