Oleh: Sulaiman Djaya, Pengurus Majelis Kebudayaan Banten
Sejak tahun 2008 hingga 2018, Prahara Suriah ternyata memiliki dampak dan kegemparan bagi Indonesia. Betapa tidak, sejumlah penceramah (ustad-ustad proxy) mendukung dan mempromosikan ISIS buatan Amerika, Israel dkk yang teramat keji dengan retorika jihad. Diantara yang mempromosikan ISIS itu contohnya Bachtiar Nasir yang menghembuskan Isu Nusairiyah, Abdul Somad yang dalam ceramahnya menyebarkan fitnah atas Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan lain sebagainya. Dan tak lupa, di Indonesia ada Presiden ISIS pula, Chep Hernawan. Sungguh bangsa yang memalukan ketika menjadi proksi dan mainan politik global yang keji dan menjadi catatan paling berdarah dalam sejarah kejahatan kemanusiaan.
Banyak orang Indonesia pun kemudian menjadi begundal-begundal ISIS, misalnya melalui jalur Turki (yang mana Negara ini salah-satu donatur dan pemasok senjata bagi ISIS), dan bahkan yayasan donasi yang diampu Bachtiar Nasir dkk memberikan bantuan kepada ISIS melalui lalulintas dan jalur Turki. Saat itu saya diberitahu beberapa teman dari kalangan Mazhab Ahlulbait bahwa ISIS adalah zombienya Amerika, Israel dkk (ada sekitar 80-an Negara yang mendonasi ISIS) dalam rangka mengagresi dan menjajah Suriah. Sebenarnya, tanpa diberitahu pun, saya sudah memiliki kesimpulan bahwa ISIS memang proyek Sarang Lebah-nya Amerika, Israel dkk dalam rangka mengumpulkan dan menyatukan kaum ekstrimis sedunia semisal kaum Wahabi dalam rangka mewujudkan impian Israel Raya untuk menyaingi Poros Islam Suriah, Iran, Libanon dkk yang dikenal memiliki kekuatan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme Amerika, Israel dkk di Timur Tengah.
Yang memprihatinkan adalah ketika media sekelas Kompas cenderung menyudutkan pemerintah Suriah, Iran, dan Rusia dalam sejumlah pemberitaannya terkait ISIS dan Krisis Suriah. Namun, setelah direnungkan, sikap Kompas itu adalah hal wajar karena ideologi Kompas adalah liberalisme dan pro Barat. Sehingga terbersit dalam benak saya memang tak perlu berharap Kompas objektif dalam memandang dan melihat Dunia Islam dan Timur Tengah di saat ideologinya adalah liberalisme dan pro Barat. Televisi-televisi kita pun, selain mempopulerkan ustadz-ustadz takfiri dan ustadz-ustadz proksi, lebih sering memberitakan sandiwara dan kebohongan bahwa Amerika memerangi ISIS. Mana mungkin Amerika memerangi ISIS di saat ISIS adalah proksi-nya dalam kepentingannya untuk menumbangkan Bashar Al-Assad? Memang lucu jurnalisme abal-abal di Indonesia ini.
Untungnya ada sejumlah jurnalis Barat yang independen dan membongkar kebohongan-kebohongan media-media mainstream Barat terkait Krisis Suriah. Di Indonesia sendiri kita disuguhkan informasi dan analisis yang cermat dan menarik, misalnya, oleh Dina Y. Sulaeman, yang juga turut mengungkap kebohongan-kebohongan pemberitaan dan propaganda-propaganda media-media mainstream Barat yang kemudian ditelan mentah-mentah oleh media-media di Indonesia yang tak ketinggalan ikut-ikutan menyudutkan pemerintah Suriah serta menyebarkan kebencian sektarian terhadap salah-satu mazhab Islam, yaitu Mazhab Ahlulbait.
Ustadz-ustadz proksi ini dibesarkan dan dipopulerkan oleh media-media televisi seperti Trans 7 (Trans TV) yang sempat cukup lama menjadi corong kelompok Wahabi, selain televisi-televisi juga menayangkan program dan acara yang tidak berkualitas dan tidak mendidik warga. Namun bukan itu saja yang memprihatinkan.
Sejumlah kaum liberal pun memandang negatif rezim dan pemerintah Suriah meski mereka tidak terang-terangan menunjukkan diri sebagai kelompok yang pro ISIS. Namun setelah direnungkan, hal demikian bukanlah sesuatu yang aneh, karena kaum liberal juga sebelumnya mendukung kelompok pemberontak yang didukung Amerika dan NATO dalam Krisis Libya. Sehingga disadari atau tanpa disadari, kaum liberal dan kelompok takfiri (semisal kelompok Wahabi dan belakangan Ikhwanul Muslimin yang mulai terjangkit takfirisme) berada di garis yang sama dalam politik global: di garis kepentingan Amerika, Israel dkk. Bila memang begitu keadaannya, maka tak perlu heran dan merasa aneh ketika dalam Krisis Suriah, media sekelas Kompas pun cenderung memandang negatif pemerintah Suriah, Iran, dan Rusia dalam pemberitaannya dan menyebarkan sandiwara dan kebohongan bahwa Amerika memerangi ISIS. Sungguh lucu memang!
Tentu tak ketinggalan, sejumlah elite oknum PKS pun menyuarakan dukungan mereka bagi Amerika, seperti pernyataan yang dilontarkan dan disampaikan seorang tokoh penting PKS, Machfud Shiddiq sebagaimana dikutip sejumlah media pada 6-7 September 2013, agar Amerika mengambil tindakan intervensi militer ke Suriah. Sesuatu yang juga sebenarnya tak mengherankan, mengingat acapkali sejumlah elite PKS tampak mondar-mandir antara Kedubes Saudi Arabia dan Kedubes Amerika, semisal Anis Matta. Secara umum, ISIS adalah cacat dan aib terbesar Barat (serta proksinya semisal rezim Wahabi Saudi Arabia) sebagai manifestasi kebrutalan dan kekejian dalam sejarah peradaban manusia.
Diantara banyak komandan ISIS pun ternyata orang-orang kulit putih dari sejumlah Negara di Eropa serta kaum ekstrimis Wahabi dari Negara-negara Eropa yang segera dikirim ke Suriah untuk menjadi zombie dan mesin perang kaum imperialis dan kolonialis: Amerika, Israel dkk di Timur Tengah. Sebuah aib yang mencoreng wajah Barat dan Eropa yang konon bangsa dan benua tempat lahirnya kemajuan dan pencerahan.
Di sisi lain, sejak meletusnya Krisis Suriah, kita jadi tahu bahwa kaum ekstrimis dan takfiri yang diantaranya disemai doktrin dan ideologi Wahabi ternyata cukup banyak meski bukan kaum mayoritas. Di tanah kelahiran saya sendiri, Serang, Banten, sebagai contoh, ada anak muda aktivis KNPI di Kota Serang yang ternyata bagian dari kaum Wahabi-Takfiri dan dia tak bosan-bosannya melecehkan dan menghina pribadi saya dengan komentar-komentarnya di status dan tulisan-tulisan saya di media sosial fesbuk. Anak muda itu bernama Mochamad Ilham, dan dia masih berwatak dan berperilaku takfiri hingga saya menulis esai otobiografis ini, meski saya tidak tahu apakah nanti sepanjang usianya dia akan tetap menjadi bagian kaum Wahabi-Takfiri.
Orang seperti dirinya jangan dianggap sedikit di Indonesia ini, termasuk di tanah kelahiran saya, Serang, Banten, sejak maraknya gerakan dan organisasi usrah dan ikhwan di kalangan mahasiswa dan perguruang tinggi (LDK) yang dikabarkan memiliki afiliasi dengan Ikhwanul Muslimin dan PKS, dan saya pernah bertemu langsung dengan orang seperti dirinya dan jadi tahu bahwa mahasiswa itu terpapar doktrin dan paham Wahabi-Takfiri ketika saya terlibat diskusi dengannya di sebuah kampus dalam sebuah acara yang digagas teman-teman saya yang diundang dalam acara tersebut.
Sebenarnya, di saat saya memberikan informasi di fesbuk bahwa ISIS adalah mesin perangnya Israel, Amerika dkk, sejumlah orang yang berkomentar di status saya segera menyebut saya Rafidhah, sesat, dan anti Negara Islam. Sungguh memprihatinkan memang! Yang menunjukkan kadar dan kualitas kaum muslim di Indonesia yang belum melek geopolitik dan konstelasi politik global akibat hasutan dan propaganda dari ustadz-ustadz dan para penceramah, semisal Firanda Ad-Dirja yang dijuluki sejumlah ulama Saudi Arabia sendiri sebagai Al-Kadzab (si pendusta di mana anak muda yang saya ceritakan itu kebetulan menjadi pengikutnya), dari sekte dan mazhab yang merupakan proksi Amerika, Israel dkk, yaitu sekte Wahabi-Takfiri yang ternyata punya banyak penceramah juga, meski sekali lagi, mereka bukan kaum mayoritas (yang mana ceramah-ceramah mereka dibantu oleh televisi-televisi dan jurnalisme abal-abal di Indonesia), tapi akan menjadi sangat mengkhawatirkan jika terus berkembang-biak di Indonesia.
Di sisi lainnya, saya mencurigai sejumlah elit dan politisi di Indonesia ‘memelihara’ kaum takfiri ini demi kepentingan politik dan strategis, semisal dalam rangka untuk melakukan pengalihan isu jika rezim mengalami kemandulan dan kebobrokan secara ekonomi atau di saat diterjang sejumlah kasus korupsi besar. Ambil contoh di era Susilo Bambang Yudhoyono yang marak kekerasan SARA, dari kasus Cikeusik, Pandeglang, Banten hingga Sampang Madura, di mana kasus yang kedua ini bahkan sampai sekarang tak terselesaikan.
Secara pribadi, kasus ISIS dan Krisis Suriah menyadarkan saya tentang betapa penting orang beragama mengetahui dan memahami geopolitik dan pengetahuan-pengetahuan sekuler lainnya yang membuat saya, misalnya, sanggup menganalisis setiap peristiwa dan kejadian politik di dunia. Sebenarnya sudah sejak lama saya tertarik dan membaca, sebagai pengetahuan tambahan, geografi dan sejarah bangsa-bangsa, termasuk sejarah dan geografi bangsa-bangsa di Timur Tengah, selain menyukai film-film sejarah yang diangkat dari peristiwa dan kejadian nyata, semisal film Lawrence of Arabia yang dibintangi Omar Sharif dan mengisahkan Thomas Stern Edward Lawrence yang ditugaskan bangsanya, yaitu Ingris Raya, untuk meneliti bangsa Arab dan kemudian membangkitkan perlawanan terhadap Turki Utsmani dan film Queen of the Desert besutan sutradara Werner Herzog yang dibintangi Nicole Kidman sebagai Gertrude Bell itu.
Sebagai contoh, pendirian Israel dan monarki Wahabi Saudi Arabia tak lepas dari kepentingan Ingris dan Amerika di Timur Tengah. Sebenarnya mereka sempat mengendalikan Iran juga di masa Syah Reza Pahlevi. Namun sayangnya, rezim boneka Amerika itu ditumbangkan oleh Revolusi Islam Iran yang digerakkan oleh Wali Allah Ayatullah Khomeini dkk. Terkait pendirian Israel, Arthur James Balfour, Sekretaris Luar Negeri Inggris, dalam sebuah suratnya kepada Lord Rothschild tahun 1917 menyatakan:
“Yang mulia melihat dengan penuh suka cita setiap perkembangan di daerah Palestina yang akan dijadikan rumah kampung halaman bagi kaum Yahudi, dan ia akan menggunakan segenap daya upayanya untuk memudahkan pencapaian rencana ini. Kami paham bahwa kami tidak boleh melakukan apapun yang bisa membuat rakyat sipil dan kaum agamawan curiga karena adanya orang-orang non-Yahudi berkeliaran di Palestina. Kami juga berusaha agar orang-orang tidak curiga dengan diberikannya hak-hak istimewa dan status politik khusus yang hanya dinikmati oleh kaum Yahudi di negara-negara lain.” Sebelumnya, pada 1914, 1st Earl of Crewe, Menteri Sekretaris Negara Inggris Raya untuk daerah-daerah jajahan Inggris, menegaskan: “Yang kami inginkan bukanlah sebuah Negara besar ARABIA bersatu melainkan sebuah kawasan ARABIA yang berpecah belah kedalam kerajaan-kerajaan kecil dibawah kekuasaan kerajaan kami yang besar.”






