Opini

Internalisasi Peran dan Fungsi Keluarga dalam Konsep Pendidikan Sosial di Era Digital

Penulis: M Rifqi Maulana, Agus Wildan, Lukman Nulhakim

Email: 7772210009@untirta.ac.id 7772210007@untirta.ac.id lukmanulhakim@untirta.ac.id


BANTENLINE.COM | OPINI – Degradasi moral anak sangatlah prihatin, terbawanya arus globalisasi dan digitalisasi, pun tidak sedikit yang tergelincir oleh bisikan dan rayuan gawai. Akibatnya, pergaulan bebas dimana-mana, tawuran, pacaran, bahkan sampai ke tindak criminal. Inilah zamannya teknologi yang tidak semua orang dapat menggunakan dengan bijak.

Karenanya, sangatlah penting memahami arti pendidikan yang sesungguhnya, mulai dari pendidikan keluarga terlebih dahulu, kemudia di sekolah, hingga sosial masyarakat. Tujuannya adalah demi terciptanya keluarga yang harmonis sesuai dengan apa yang diharapkan dan dicita-citakan. Dalam hal ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang sifatnya studi literature. Data- data bersumber dari buku, jurnal, dan artikel yang relevan.

Hasil dari apa yang peneliti temukan yaitu cara mengatasi masalah yang terjadi pada anak, pendidikan, dan sosial. Maka dibutuhkanlah peran dan fungsi keluarga dalam membina anak, berlandaskan iman, takwa, dan juga pendidikan yang berbudi pekerti luhur.
Kata kunci: peran, fungsi, keluarga, pendidikan sosial, era digital.

ERA REVOLUSI INDUSTRI
Lahirnya era revolusi industri memunculkan maraknya perkembangan teknologi sudah tidak asing lagi didengar oleh telinga kita. Di berbagai elemen dunia terkena dampaknya, baik dampak positif ataupun dampak negatif. Coba kita lihat negara Jepang dan China, mereka sudah dapat menciptakan gawai yang lebihcanggih, mobil listrik, bahkan robot yang dapat menggantikan pekerjaan manusia.

Itulah salah satu jika kitacerdas memanfaatkan1peluang dengan bijak.Tetapi sebaliknya, jika kita hanya pasif, masih ketergantungan dengan zaman, dan menjadikannya sebagai penikmat saja, maka kita akan diperbudak oleh para penguasa zaman. Sekarang ini, tidak sedikit manusia yang lalai alangkah berharganya sebagai sesosok makhluk yang paling mulia di muka bumi. Diciptakan dengan sempurna tanpa kekurangan sedikitpun. Tetapi, mereka lupa akan tanggung jawab terhadap jati dirinya.

Sebagai contoh, masih ada di sekitaran kita yang melakukan pergaulan bebas, tauran, berzina, dan yang lebih sadis ialah sampai membunuh orang tuanya. Tidak lain dan tidak bukan, salah satu faktor penyebab yang sangat vital adalah gawai. Menonton hal yang tidak seharusnya di tonton, mengikuti trend masa kini yang kemudian mengalir deras ke dalam pikiran dalam bawah sadar untuk melakukan sesuatu itu. Rontoknya nilai-nilai keagamaan, sosial, dan budaya, serta menurunnya moralitas ilmu pengetahuan. Ini merupakan tanggung jawab bersama yang harus diselesaikan, bagaimana caranya mendidik, mengarahkan, dan membinaagar hal-hal tersebut tidak terjadi.

Pendidikan ialah solusi guna memberantas masalah-masalah bagaimana seorang manusia dapat bertahan hidup dan berkembang sesuai dengan masanya. Pun sebagai kebutuhan untuk keberlangsungan hidup tanpa mengenal usia. Karenanya, semua elemen mesti terlibat dan ikut andil dalam meningkatkan sumber daya manusia. Sesuai dengan tujuan pendidikan di indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab ke masyarakat dan kebangsaan (UU No. 2/1989, Bab II Pasal 4).

Keluarga merupakan gerbang awal mula pendidikan seseorang dilahirkan, atau yang kita sebut adalah masa emas anak. Bagaimana si anak ini dapat hidup dengan apa yang diinginkan dan dicita-citakan, diperlukan adanya peran orang tua yaitu ayah dan ibu sebagai visi keharmonisan rumahtangga. Keluarga adalah suatu bentuk masyarakat dalam lingkup kecil, artinya sebelum anak itu dewasa, orang tua mengajarkan kepada anaknya dengan penuh kasing sayang yang tulus tentang bersikap yang baik, berperilaku jujur, tutur kata yang santun dan bertanggung jawab. Adanya saling bekerjasama ayah, ibu, dan anak demi terciptanya manusia yang berguna bagi dirinya, bagi orang lain, dan lingkungan sosial masyarakat.

Peran keluarga dalam pemenuhan kebutuhan anak sesuai teori Maslow bahwa keluarga ialah lembaga pertama dalam upaya pendidikan dan pengasuhan si anak. Jadi anak terpenuhi kebutuhan pokoknya, baik itu dalam kebutuhan fisik, biologis, ataupun sosio psikologisnya. Kemudian si anak merasakan kenyamanan, secara tidak disadari langsung maka anak tersebut dengan sendirinya akan nurut dan patuh kepada ayah dan ibunya. Apapun nanti yang diperintahkan ayah dan ibunya, pasti anaknya melaksanakannya dengan senang hati tanpa ada rasa keterpaksaan sedikitpun.

Dari sini kita lihat bahwa peranan orang tua sangatlah penting dalam pemenuhan kebutuhan si anak, tidak lupa juga harus memahami apa fungsi keluarga itu sendiri. Misalnya fungsi agama, artinya bagaimana di dalam keluarga menjalankan aktivitas ibadah apa yang diperintahkan Sang Khalik, dan menjauhkan perbuatan yang dilarang Sang Khalik. Kemudian fungsi biologis, artinya mengayomi dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Kemudian fungsi pendidikan, artinya keluarga adalah pendidik utama yang menanamkan nilai dan norma yang baik.


KONSEP KELUARGA
Keluarga ialah gerbang awal mengenal sesuatu yang belum diketahui dan dapat membina seorang individu menjadi makhluk sosial. Pun keluarga merupakan wadah yang mempunyai makna penting dalam pembentukan karakter dan hubungan sosial. Keluarga juga bisa disebut kelompok pertama atau primary group yakni sebagai tempat meletakkan dasar kepribadian. Pada dasarnya saat bayi, kita dilahirkan dengan fitrah sesungguhnya tidak dapat melakukan apapun tanpa bantuan disekitarnya. Semua kebutuhan apapun tergantung apa yang ada disekitarnya. Sudah pasti, orang tualah yang berjuang sekuat tenaga membantunya. Ada ayah, ibu, dan anak ini disebut sebagai segitiga abadi, karena disinilah kita memulai arti kehidupan sosial yang sesungguhnya.

Jika orang tuanya mendidik dengan baik, maka anaknya akan menjadi baik. Sebaliknya, jika orang tuanya acuh tak acuh, maka anaknya akan menjadi kurang baik. Tetapi ada hal lain juga yang berpengaruh didalamnya, yaitu faktor lingkungan. Bagaimana seorang anak apakah akan mewarnai lingkungannya, ataukah anak tersebut yang diwarnai oleh lingkungannya. Oleh karena itu, pentingnya peran dan fungsi keluarga dalam mendidik dan membina anak sebagai individu menjadi makhluk sosial yang mengetahui pengetahuan dasar, nilai dan norma sosial, serta etika pergaulanyang baik.

Sumaatmadja (1998: 38) konsep keluarga adalah sebagai berikut. Yaitu (1) keluarga merupakan lembaga pendidikan, (2) keluarga merupakan lembaga keagamaan, (3) keluarga merupakan lembaga ekonomi, (4) keluarga merupakan lembaga politik, (5) keluarga merupakanlembaga peradilan.

Pendapat lain, menyatakan bahwa keluarga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu dalam arti psikologis, dan dalam arti biologis. Psikologis artinya sekumpulan orang-orang yang hidup bersamaan di dalam tempat tinggalya dan masing-masing anggota keluarga merasakan adanya ikatan bathin yang kuat sehingga terjadinya saling mempengaruhi dan saling memperhatikan satu sama lain. Sedangkan biologis artinya bahwa ini menunjukkan ikatanyaitu antar ayah, ibu, dan juga anak yang berlangsung lama dan terjadi terus menerus karena ada hubungan darah atau biologis yang tidak mungkin lepas antar ketiganya.

Berdasarkan persepsi tersebut, dapat ditarik benang merahnya bahwa keluarga ialah unit sosial yang utama dan terkecil dari masyarakat, yang didalamnya ada ayah, ibu, dan anak yang saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain, sehingga nantinya menciptakan interaksi sosial yang selaras dan sesuai apa yang dicita-citakan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara. Peran dan Fungsi Keluarga peran keluarga sangatlah dibutuhkan baik bagi anak terlebih lagi bagi lingkungan sekitarnya. Maka, sudah barang tentu keluarga merupakan faktor terpenting bagi pembentukan perilaku dan juga sikap anak demi mengembangkan kepribadian anak.

Adanya bentuk kasih sayang yang tulus misalnya, kemudian pendidikan agama, pendidikan sosial dan budaya. Hal ini menjadikan anak berpribadi jujur dan bertanggung jawab, dengan tujuan untuk mempersiapkan masa depan yang gemilang. Peran ini menginterpretasikan bagaimana perilaki inter personal anak, sifatnya, kemandiriannya, sosialnya juga diasah mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, maupun nanti ketika di masyarakat.

Fungsi keluarga menciptakan sebagaimana menjalankan apa yang ada di dalam keluarga tersebut melalui usaha untuk menjadikan keluarga yang berkualitas dan sejahtera. Disinilah pentingnya fungsi keluarga dijalankan secara optimal. Menurut Rasjid (1994) fungsi keluarga yaitu, (1) fungsi edukasi, fungsi ini berkaitan dengan pendidikan khususnya kepada anak dididik sejak bayi baru lahir, kemudian masuk ke dalam Pendidikan Anak Usia Dini, kemudian lanjut lagi ke Sekolah Dasar, kemudian ke Sekolah Menengah Pertama, kemudian ke Sekolah Menengah Atas, kemudian ke Perguruan Tinggi, dan kemudian kembali lagi ke lingkungan masyarakat. Dimana sikap sosial sudah diterapkan dalam berinteraksi dengan warga sekitar. Tidak hanya di lembaga formal saja, tetapi juga di non formal dapat belajar. Tidak hanya sekedar pelaksanaan, tetapi praktiknya juga harus diaplikasikan dalam lingkungan sekitarnya. Pelaksanaan fungsi edukasi ini adalah menjadi tanggung jawab yang harus difasilitasi oleh orang tua, karena siapa lagi kalo bukan ayah dan ibunya untuk menjalankan fungsi edukasi bagi anaknya.

(2) fungsi sosialisasi, fungsi ini menekankan bagaimana si anak bisa berinterakasi baik dengan1ayahnya, ibunya, maupun orang yang ada di sekelilingnya. Kemudian juga meliputi1norma-norma sosial, kemudian pendekatan dengan teman sebaya, atau bisa juga aktif dan1 saling berdiskusi. Dengan demikian, anak dapat menyiapkan mental ceria dan dapat beradaptasi1dengan lingkungannya.

(3) fungsi proteksi, atau disebut juga dengan fungsi perlindungan. Fungsi ini bagaimana orang tua melindungi anaknya dengan bijak dan membentengi dari sikap atau perilaku yang menyimpang.

(4) fungsi afeksi atau kasih sayang, bagaimana orang tua mengerti dan memahami apa yang dirasakan anaknya. Berkomunikasi dengan ucapan yang santun misalnya, merasakan ketika bahagia maupun bersedih, jangan sampai salah menafsirkan antara orang tua dan anak.

(5) fungsi religius, fungsi ini pada hakikatnya adalah kewajiban bagi setiap individu untuk1hidup beragama. Orang tua tentunya mengarahkan dan membimbing anaknya ke jalan yang lurus. Supaya menjadikan anak yang sholih dan berbakti kepada orang tuanya.

(6) fungsi ekonomis, fungsi ini mungkin sudah banyak kita lihat, meliputi nafkah, kemudian pembelanjaan, dan biaya lainnya. Hal ini harus seimbang antara pengeluaran dan pemasukan. Artinya orang tua mesti pandai mengelola dan mengatur keuangan dengan bijak, karena jika tidak seimbang akan timbul masalah dan dapat mempengaruhi kepribadian anak.

(7) fungi rekreatif, fungsi ini walaupun hal sepele, tetapi jika terlaksana akan membuat hati keluarga menjadi nyaman dan pasti ceria. Karena, selain hanya liburan, dengan rekreasi juga hati menjadi senang dan tenang. Manfaat lain yaitu memberikan rasa kedekatan antar keluarga.

(8) fungsi biologis, fungsi ini berhubungandengan kebutuhan seperti sandang, pangan, dan papan, serta kebutuhan fisik. Pendidikan Keluarga sebagai pusat pendidikan pertama merupakan fase awal, landasan, landasan yang akan menentukan keberlangsungan dan keberhasilan pendidikan selanjutnya karena pendidikan dalam keluarga merupakan pusat pendidikan alamiah yang berlangsung dengan penuh kewajaran dibandingkan dengan pusat pendidikan lainnya.

Orang tua sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan anak berkewajiban mendidik anaknya sesuai dengan kedudukan yang telah diberikan amanah oleh Tuhan, dengan fitrahnya mereka termotivasi untuk membimbing anaknya menjadi manusia dewasa, menjalani kehidupan yang layak menjadi religius, menjadi anak-anak yang baik, sholeh, bahagia dunia dan akhirat. Peran orang tua dalam mendidik anak melalui pendidikan agama yang benar sejak usia dini sangatlah penting, bahkan pembinaan mental keagamaan bagi anak dimulai sejak masa pembuahan, hal ini sesuai dengan konsep psikologi dan ajaran Islam yang menyatakan bahwa kondisi mental seorang ibu yang sedang hamil akan mempengaruhi mentalitas anak di masa depan. Penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh anak – anak di era digital ini semakin memprihatinkan. Ini disebabkan oleh kehebatan teknologi yang membuat segala sesuatu menjadi canggih mengakibatkan anak dimanjakan oleh kecanggihan teknologi.

Menurut Barkatillah (2021)1kasus ini disebut dengan “jebakan digital”, dan salah satu hal yang memudahkan anak-anak untuk masuk ke dalam jebakan tersebut adalah karena adanya “Kepribadian Terbelah” antara anak dan orang tua. Akibatnya kewajiban orang tua terhadap anak tidak terpenuhi, salah satunya adalah pendampingan yang tulus kepada anak ketika menjelaja dunia maya melalui media digital. Melekat pada anak di rumah, sehingga orang tua lebih mudah membimbing anak ke arah yang positif saat menjelajah dunia maya melalui media digital. Pola asuh harus diterapkan berdasarkan ketuhanan yang kuat, terbuka dan tidak manipulatif.

Di sekolah, guru merupakan salah satu penentu berhasil atau tidaknya upaya peningkatan mutu dan inovasi pendidikan. Penelitian sebagian besar menegaskan bahwa kualifikasi dan kompetensi guru secara signifikan mempengaruhi kualitas pengajaran yang diberikan kepada anak-anak (Lazar, Darlington, Murray, Royce & Snipper, 1982; Oden, Schweinhart & Weikart, 2000),1dan bahwa kualifikasi yang lebih tinggi dalam guru anak-anak prasekolah berkontribusi untuk hasil yang lebih positif bagi anak-anak itu baik jangka pendek maupun jangka panjang (Kontos & Wilcox-Herzog, 2001).

PENDIDIKAN ISLAM
Mansir, F., & Karim, A. (2020) mengatakan bahwa pendidikan Islam memiliki peran yang signifikan dalam membentuk etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa untuk menciptakan manusia yang agamis dan bertaqwa. Selama beberapa dekade terakhir, terlihat bahwa perubahan signifikan terjadi dalam cara teknologi komunikasi memengaruhi cara orang mengamalkan agama (Campbell, 2016: 1). Memasuki abad 21 merupakan fase kehidupan yang sama sekali berbeda dengan era sebelumnya. Salah satu ciri utama abad ini adalah ledakan luar biasa dalam revolusi teknologi komunikasi. Revolusi awal membawa perubahan besar bagi umat manusia di dunia ini.

Akibatnya, pada abad ini lahirlah yang disebut komunitas global (global citizen), yaitu komunitas yang tidak bisa lagi dibatasi oleh batas-batas geografis suatu negara untuk berkomunikasi dan berinteraksi (Karim, 2016: 19-35). Sebuah komunitas yang tidak dapat dipisahkan dari latar belakang ras, etnis dan agama dalam berinteraksi.
Dalam perkembangan zaman sekarang ini, pasti ada dampak positif dan negatif dalam dunia pendidikan dengan munculnya era digital atau era revolusi industri 4.0. Khususnya terkait pembelajaran pendidikan Islam yang juga terus mengalami perkembangan dan perubahan yang konstan (Amirudin, 2019:181–192).

Pendidikan Islam, khususnya di era digital, bertujuan untuk membentuk generasi muslim yang cakap ilmu dan keterampilan agar mampu melangsungkan kehidupan dengan baik, aman, sejahtera, dan rukun. Rumusan pendidikan Islam dirancang untuk melatih, dan mengembangkan setiap individu Muslim agar mereka mampu pengetahuan Islam dan praktik sehari-hari dan kompeten dalam ilmu praktis berbasis terapan untuk mengelola sumber daya alam dalam upaya memenuhi kebutuhan sehari-hari (Alfinnas, 2018: 804). –817).

Pendidikan etika memainkan peran besar sebagai landasan dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia. Pendidikan dapat diajarkan dalam setiap aspek kehidupan; keluarga, lingkungan akademik, dan juga masyarakat sekitar (Bakti & Meidasari, 2014: 21-44). Gejolak dalam globalisasi dapat menimbulkan paradoks atau gejala moralitas yang bertolak belakang, yaitu benturan dua sisi moral yang bertolak belakang secara diametral.

PENDIDIKAN INDONESIA
pendidikan di indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab ke masyarakat dan kebangsaan (UU No. 2/1989, Bab II Pasal 4). Bagaimana si anak ini dapat hidup dengan apa yang diinginkan dan dicita-citakan, diperlukan adanya peran orang tua yaitu ayah dan ibu sebagai visi keharmonisan rumah tangga.

Keluarga adalah suatu bentuk masyarakat dalam lingkup kecil, artinya sebelum anak itu dewasa, orang tua mengajarkan kepada anaknya dengan penuh kasing sayang yang tulus tentang bersikap yang baik, berperilaku jujur, tutur kata yang santun dan bertanggung jawab. Adanya saling bekerjasama ayah, ibu, dan anak demi terciptanya manusia yang berguna bagi dirinya, bagi orang lain, dan lingkungan sosial masyarakat. Kemudian si anak merasakan kenyamanan, secara tidak disadari langsung maka anak tersebut dengan sendirinya akan nurut dan patuh kepada ayah dan ibunya. Misalnya fungsi agama, artinya bagaimana di dalam keluarga menjalankan aktivitas ibadah apa yang diperintahkan Sang Khalik, dan menjauhkan perbuatan yang dilarang Sang Khalik.

REFERENSI

Books:
Alfinnas, S. (2018). Arah baru pendidikan Islam di era digital. Fikrotuna: Jurnal Pendidikan Dan Manajemen Islam, 7(1), 804–817.

Amirudin, N. (2019). Problematika pembelajaran pendidikan agama Islam di era digital. In Prosiding Seminar Nasional Prodi PAI UMP (pp. 181–192). Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Campbell, N. A., Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V., & Jackson, R. (2016). Campbell biologie. Pearson.
Karim, A. (2016). Pembaharuan pendidikan Islam multikulturalis. Jurnal Pendidikan Agama Islam -Ta’lim, 14(1), 19–35.

Oden, S., Schweinhart, L. J., & Weikart, D. P. (2000). Into Adulthood: A Study of the Effects of Head Start. High/Scope Press, 600 North River Street, Ypsilanti, MI 48198-2898.
Rasjid, Sulaiman.1994. Fiqh Islam. Bandung: Algensindo.

Journals:
Bakti. A.F & Meidasari, V. E. 2014. Trendsetter Komunikasi di Era Digital: Tantangan dan Peluang Pendidikan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Jurnal Komunikasi Islam, 4(1): 21-44.

Barkatillah, B. (2021). Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Anak Dalam Keluarga. Cross-border, 4(2), 46-57.

Campbell, H. (2016). Digital religion: Understanding religious practice in new media worlds. London and New York: Routledge Falmer.

Kontos, S., & Wilcox-Herzog, A. (2001). How Do Education and Experience Affect Teachers of Young Children? Research in Review. Young Children, 56(4), 85-91.

Mansir, F., & Karim, A. (2020). Islamic education learning approaches in shaping students’ emotional intelligence in the digital age. Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, 4(1), 67-86.
Mantra. 2008. Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Sugiyono. (2013). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Sumaatmadja, Nursid. 1998. Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya, dan Lingkungan Hidup. Bandung: CV Alfabeta

Agung Herdiansyah

Recent Posts

Pimpinan Daerah Gorontalo Bersatu, Dukung Fauzan Fadel Muhammad Memperkuat Peran KADIN dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

BANTENLINE.COM, – Fauzan Fadel Muhammad menggelar acara Halal Bihalal Keluarga Besar KADIN Provinsi Gorontalo yang…

12 jam ago

Fauzan Fadel Muhammad Sowan ke Gubernur Gusnar, Perkuat Iklim Usaha di Gorontalo

BANTENLINE.COM, – Dalam upaya memperkuat ekosistem bisnis di Provinsi Gorontalo, Fauzan Fadel Muhammad, salah satu…

1 hari ago

PPI Kecamatan Mandalawangi Gelar Diklatsar I, diikuti Ratusan Pelajar berbakat

BANTENLINE.COM PANDEGLANG – Pengurus Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kecamatan Mandalawangi menggelar kegiatan Pendidikan dan Pelatihan…

5 hari ago

BRI BO Gatot Subroto Salurkan Jumat Berkah ke Panti Asuhan Yatim & Dhuafa Mizan Amanah

BANTENLINE.COM, JAKARTA - Sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama, BRI Branch Office…

5 hari ago

Sengketa Lahan Kampung Dukuh, Majelis Hakim Vonis Bebas Ahli Waris

BANTENLINE, JAKARTA – Pengadilan Negeri Jakarta Timur telah menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Armando Herdian dalam…

1 minggu ago

KNPI Banten Gandeng Dinsos Perkuat Sinergi, Menuju MUSDA 2026

Serang, 8 April 2026 – Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Provinsi…

1 minggu ago