Nasional

Evaluasi Infrastruktur Transportasi Nasional: Keselamatan, Prioritas Anggaran, dan Transformasi Berbasis Teknologi

BANTENLINE, – Peristiwa kecelakaan transportasi yang terjadi hari ini di wilayah Bekasi menjadi pengingat serius bahwa pembangunan transportasi nasional tidak cukup hanya berfokus pada ekspansi infrastruktur, tetapi harus mengutamakan keselamatan sistem, ketepatan investasi, dan pemanfaatan teknologi modern.

Insiden yang melibatkan kereta api maupun transportasi darat lainnya menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kurangnya infrastruktur, melainkan belum optimalnya sistem keselamatan yang berbasis teknologi dan pencegahan (preventive system).

“Kita masih terlalu fokus membangun fisik, padahal yang lebih mendesak adalah membangun sistem yang aman, cerdas, dan terintegrasi,” tambah fauzan Fadel Muhammad pada Selasa (28/4/2026).

Keselamatan harus menjadi fondasi utama dalam pengembangan transportasi. Kecelakaan yang terus berulang menunjukkan bahwa sistem transportasi nasional masih bergantung pada intervensi manusia, minim integrasi data real-time, serta belum memanfaatkan teknologi seperti AI dan sensor secara optimal.

Ke depan, penguatan harus dilakukan melalui penerapan AI-based predictive maintenance, sensor IoT pada jalur dan kendaraan, sistem signaling otomatis, serta command center berbasis data real-time.

“Jika sistem masih reaktif, maka penambahan infrastruktur hanya akan memperbesar potensi risiko,” kata Fauzan Fadel Muhammad praktisi Dunia usaha dan logistik

Di sisi lain, pembangunan kereta api merupakan salah satu investasi dengan biaya paling tinggi. Mulai dari pembebasan lahan, konstruksi rel, hingga biaya operasional dan perawatan jangka panjang, semuanya membutuhkan anggaran yang sangat besar.

Namun manfaatnya sangat bergantung pada tingkat utilisasi.

“Kita harus jujur, tidak semua wilayah Indonesia membutuhkan kereta api. Jika dipaksakan, ini berpotensi menjadi beban fiskal jangka panjang,” tambahnya

Untuk wilayah seperti Papua dan daerah terpencil lainnya, dengan kondisi geografis yang sulit, demand yang terbatas, serta biaya pembangunan yang sangat tinggi, pendekatan rel konvensional menjadi tidak efisien.

Solusi yang lebih tepat adalah dengan memanfaatkan teknologi seperti drone logistik, kendaraan listrik, autonomous truck, serta integrasi jalur distribusi berbasis AI.

“Yang dibutuhkan bukan rel, tapi akses logistik. Dan akses hari ini bisa dibangun dengan teknologi tanpa harus membangun rel,” tambahnya

Dalam konteks pembangunan nasional yang saat ini sangat masif, Indonesia juga harus memahami bahwa tidak semua program dapat dijalankan secara bersamaan.

Pemerintah saat ini memiliki berbagai prioritas strategis seperti ketahanan pangan, energi, hilirisasi industri, serta pembangunan infrastruktur dasar.

“Kita tidak bisa membangun semua hal sekaligus. Harus ada keberanian menentukan prioritas agar setiap rupiah anggaran memberikan dampak maksimal,” ujarnya

Terkait kebutuhan investasi besar di sektor perkeretaapian hingga Rp1.200 triliun sampai 2045 yang pernah disampaikan oleh pemerintah, hal ini perlu dilihat secara lebih strategis.

“Pertanyaan utamanya bukan hanya berapa besar kebutuhan investasi, tetapi apakah bentuk investasinya sudah paling efisien dan tepat sasaran,”kata fauzan

Dengan fokus pada wilayah dengan demand tinggi seperti Jawa dan Sumatera, optimalisasi jaringan yang sudah ada, serta pemanfaatan teknologi sebagai substitusi di wilayah non-ekonomis, kebutuhan investasi dapat ditekan secara signifikan dan risiko aset tidak produktif dapat dihindari.

Menanggapi arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pembangunan flyover pada lintasan kereta api dengan estimasi anggaran sekitar Rp4 triliun, pendekatan tersebut dinilai perlu dilihat secara lebih komprehensif.

“Flyover memang bisa mengurangi risiko di titik tertentu, tetapi ini tetap solusi berbasis infrastruktur fisik yang mahal. Jika tidak dibarengi dengan sistem keselamatan berbasis teknologi, maka efektivitasnya terbatas.”

Flyover hanya menyelesaikan masalah pada titik tertentu dan tidak menyentuh akar persoalan secara sistemik.

Alternatif yang lebih efisien adalah pengembangan smart crossing system berbasis sensor, automated barrier system, serta integrasi data antara kereta dan kendaraan.

“Kita harus mulai beralih dari solusi mahal berbasis beton ke solusi cerdas berbasis teknologi,” ujarnya

Tragedi yang terjadi hari ini seharusnya menjadi momentum perubahan paradigma dalam pembangunan transportasi nasional.

“Kalau kita hanya menambah infrastruktur tanpa memperbaiki sistem, kita sedang mengulang kesalahan yang sama. Indonesia harus membangun dengan cerdas, bukan sekadar besar,” tambah Fauzan. (*)

Tauhid Mahyudin

Recent Posts

Luxury Villa Housekeeping & Turnover Standards in Bali: What to Expect Between Stays

Picture this: you step out of a scooter and into a luxury villa, and the…

3 hari ago

realme C100 Era Baru Daya Tahan Ekstrem dengan 8000mAh Durable Champion Rilis Bulan Mei 2026

BANTENLINE, Jakarta – realme, salah satu brand smartphone dengan pertumbuhan tercepat di dunia, memperkenalkan inovasi…

4 hari ago

Ansor Kota Serang: Pengeroyokan Bukan Hal Biasa, Segera Tangani

BANTENLIN.COM-Serang - Ketua pimpinan Gerakan pemuda Ansor kota serang meminta kepada polresta serang kota agar…

5 hari ago

Pondok Pesantren Nurul Hidayah Assidiqiah buka Santri Baru

BANTENLINE COM PANDEGLANG - Pondok Pesantren Nurul Hidayah As-shidiqiyah kembali membuka kesempatan emas bagi putra-putri…

6 hari ago

Perkuat Sinergi Kepemudaan dan Layanan Publik, DPD KNPI Banten Audiensi dengan PLN UP3 Banten Utara

Banten, 27 April 2026 – Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Provinsi…

6 hari ago

Ketua Kelatnas Sebut Lulusan ITNY Punya Karakter DNA Petarung, Tangguh, Disiplin & Tahan Tekanan

BANTENLINE, YOGYAKARTA — Ketua Umum Keluarga Alumni Teknologi Nasional Yogyakarta (KELATNAS), Ir. Yunus, menegaskan bahwa…

7 hari ago