Oleh: Achmad Zainal Abidin
Batenline.com, Opini – Sejak didirikan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengusung semangat pergerakan dan perjuangan yang mengintegrasikan dimensi intelektual, spiritual, dan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Fondasi Nilai Dasar Pergerakan yang dikembangkan PMII bersumber dari ajaran Islam, jiwa kebangsaan, serta prinsip-prinsip kemanusiaan yang bersifat universal. Hal yang perlu dipertanyakan adalah: masihkah nilai-nilai fundamental ini memiliki makna dalam era modern yang diwarnai oleh revolusi digital, arus globalisasi, dan transformasi disruptif di berbagai sektor kehidupan?
Menurut pandangan saya, di tengah pesatnya transformasi zaman, NDP PMII justru semakin menunjukkan signifikansinya. Pertama, dari dimensi spiritual. Zaman digital memicu krisis jati diri dan proses dehumanisasi, dimana individu kerap dipandang hanya sebagai informasi statistik. NDP yang bertumpu pada konsep tauhid menekankan pentingnya mengarahkan hidup kepada Tuhan Yang Maha Esa, memberikan landasan etika yang solid bagi kader PMII agar tidak terperangkap dalam sikap pragmatis belaka.
Kedua, dari aspek kemampuan berpikir kritis. Tsunami informasi di era digital memerlukan kapasitas literasi yang mendalam. NDP PMII mempromosikan cara berpikir yang terbuka, adaptif, dan kontekstual dalam menghadapi permasalahan masyarakat. Hal ini krusial agar mahasiswa tidak hanya menjadi penerima informasi pasif, tetapi juga pencipta ide-ide yang memberikan pencerahan.
Ketiga, dari perspektif humanisme dan semangat kebangsaan. Globalisasi kerap menimbulkan ketimpangan sosial dan melemahkan rasa cinta tanah air. Prinsip dasar PMII yang memihak kaum tertindas tetap bermakna sebagai kekuatan moral untuk menegakkan keadilan sosial. Bersamaan dengan itu, PMII dapat berperan sebagai garda depan dalam memelihara keberagaman dan memperkuat nasionalisme yang inklusif.
Era kontemporer memang menghadirkan persoalan yang rumit, mulai dari politik identitas, ekonomi digital, hingga kemerosotan moral generasi muda. Namun, NDP PMII bukanlah dokumen yang statis, melainkan pedoman nilai yang fleksibel dan dapat diinterpretasikan sesuai dengan konteks zamannya. Sepanjang PMII mampu melakukan penafsiran ulang dan pengejawantahan nilai-nilai dasar tersebut, maka relevansinya akan tetap terjaga.
Dengan demikian, NDP PMII tidak hanya masih relevan, tetapi malah semakin mendesak sebagai penunjuk arah moral, intelektual, dan sosial dalam menghadapi dinamika era kontemporer.
Jakarta, 3 Juni 2026 - Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Moderat Nasional (DPP PMN) menyatakan dukungan…
BANTENLINE.COM PANDEGLANG- Prestasi membanggakan berhasil diraih oleh Perpustakaan Desa Batubantar Puspa Smart setelah dinobatkan sebagai…
Jakarta, 1 Juni 2026 – Dewan Pengurus Pusat Persatuan Moderat Nasional (DPP PMN) menyatakan dukungan…
BANTENLINE.COM, BEKASI - BRI terus memberikan manfaat kepada masyarakat dan nasabah. Salah satu bentuknya berupa…
Jakarta, 28 Mei 2026 — Ketua Umum DPP PMN, Kiki Fauzi, menegaskan pentingnya keberadaan Kementerian…
Suasana penuh kebersamaan dan kekhidmatan mewarnai pelaksanaan ibadah pemotongan hewan Qurban Tahun 1447 Hijriyah atau…