Ditulis oleh: Ketua PKC PMII Banten, Winah Setiawati
Bantenline.com – Diujung selatan Banten, perjalanan naas harus dilalui seorang wanita asal Cikeusik, Pandeglang yang ingin melahirkan, wanita itu harus ditandu dan perahu kecil sebagai kendaraan untuk mendapatkan akses kesehatan. Pasalnya kondisi jalan Desa Leuwibilang Kecamatan Cikeusik rusak parah sehingga tandu dan perahu kecil sebagai kendaraan untuk bisa melawati derasnya aliran sungai.
Melihat perjalanan seorang wanita itu, hal yang sangat disayangkan pemimpin daerah malah sibuk membangun jalan ke panggung kehormatan, Tapi di Cikeusik jalan menuju rumah sakit lebih mirip rintangan gladiator daripada jalur kesehatan. kemana pergi peta pembangunan. Apa mungkin terselip di laci kantor yang terlalu sibuk menghitung angka, bukan nyawa.
Melihat perjuangan seorang Wanita asal Cikeusik, PMII Banten sangat menyayangkan dan perihatin terhadap pemerintah daerah yang tidak peka terhadap jalan – jalan rusak yang ada di pelosok desa.
Negara Hadir tapi Tak Menyapa
Negara katanya hadir, Tapi yang datang pertama kali ketika warga butuh pertolongan ternyata bukan ambulans, bukan dokter juga bukan perbaikan jalan, melainkan gotong royong dan tandu dari tetangga.
Kalau negara hadir tapi tak menyapa, itu bukan kehadiran. Itu sekadar bayangan kekuasaan yang tidak menyentuh tanah rakyat.
untuk membangun gedung megah, negara bisa berlari. Tapi untuk membangun jalan desa, negara bahkan tak melangkah. Apakah rakyat di pedalaman harus membawa proposal bersampul emas agar layak diperhatikan?
PKC PMII Banten Hadir Bukan Marah tapi Mengingatkan
PMII Banten, tidak akan berhenti berbicara, PMII Banten akan terus menyerukan kepada para pemegang kekuasaan—baik di level kabupaten, provinsi, maupun nasional—untuk tidak hanya melihat kejadian ini sebagai berita viral semata, tetapi sebagai peringatan keras bahwa pembangunan yang tidak menjangkau ibu hamil di pedalaman adalah pembangunan yang gagal.
Jalan rusak yang membuat ibu melahirkan di tandu adalah jalan rusak menuju kemanusiaan. Ini waktunya penguasa turun, bukan sekadar survei, tetapi hadir dengan tanggung jawab dan perubahan konkret.
Saran Kami Sederhana: Turunlah ke Lumpur Sebelum Naik ke Panggung
PMII Banten menyarankan kepada para pejabat yang sibuk meninjau proyek dari balik layar presentasi agar sesekali naik perahu, rasakan lumpur, memakai tandu saat saudara atau istrinya ingin melahirkan. Bukan untuk menyiksa diri, tapi untuk tahu betapa hidup warga tidak semewah narasi “pembangunan berkeadilan.”
Jika mereka mau mendengar suara rakyat, jangan hanya pas musim kampanye. Datanglah juga saat rakyat ditandu menuju hidup atau mati.
PMII Banten menawarkan 4 point solusi Strategis, diantaranya:
1. Ambulans Desa Berbasis Lokalitas: Pengadaan kendaraan alternatif (perahu motor, 4WD) untuk desa rawan akses.
2. Pemetaan Zona Darurat: Data partisipatif wilayah rawan akses untuk dasar intervensi pemerintah.
3. Penguatan Pengawasan Anggaran: Melibatkan masyarakat dalam pengawasan proyek infrastruktur dan kesehatan.
4. Reformasi RPJMD & RKPD: Revisi dokumen perencanaan agar berbasis keadilan spasial dan sosial.
BANTENLINE.COM, – Fauzan Fadel Muhammad menggelar acara Halal Bihalal Keluarga Besar KADIN Provinsi Gorontalo yang…
BANTENLINE.COM, – Dalam upaya memperkuat ekosistem bisnis di Provinsi Gorontalo, Fauzan Fadel Muhammad, salah satu…
BANTENLINE.COM PANDEGLANG – Pengurus Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kecamatan Mandalawangi menggelar kegiatan Pendidikan dan Pelatihan…
BANTENLINE.COM, JAKARTA - Sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama, BRI Branch Office…
BANTENLINE, JAKARTA – Pengadilan Negeri Jakarta Timur telah menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Armando Herdian dalam…
Serang, 8 April 2026 – Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Provinsi…