BANTENLINE.COM KOTA SERANG– Kegiatan rutin Majelis Kemisan Lembaga Kajian dan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kota Serang kembali digelar, Selasa, 21 Maret 2023 lewat ZOOM Meeting.
Ketua pelaksana Majelis Kemisan ini, Imam Abdillah menyebut banyak peristiwa-peristiwa intoleransi di Kota Serang pada Ramadhan tahun-tahun sebelumnya.
“Pada bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, ada banyak narasi intoleransi, maka lakpesdam mengadakan kegiatan ini.”
Senada dengan Imam, Ketua Lakpesdam Kota Serang, Akbarudin mengungkap adanya kegiatan soal intoleransi di Kota Serang.
“Sangat penting untuk menakar toleransi di Kota Serang karena Ramadhan tahun lalu ada kegiatan yang cukup mencengangkan soal toleransi” ujar Akbar.
Sementara itu, A’wan PBNU, KH Matin Syakowi dalam penyampaian keynote speakernya menyatakan, tujuan akhir dari puasa adalah takwa.
Disamping Takwa, Kiai Matin juga menyoroti terkait orang yang menjalankan ibadah puasa.
Kiai Matin menjelaskan puasa tidak cukup hanya dengan keimanan tapi perlu dilakukan dengan keikhlasan.
“Bagi orang yang berpuasa sejatinya tidak perlu penghormatan dari orang lain jika melaksanakan puasa dengan keikhlasan,” ujar Kiai Matin.
Sementara itu, ada 3 narasumber dalam Majelis Kemisan kali ini.
Narasumber pertama, Ketua PW GP Ansor, Banten, Ahmad Nuri menjelaskan kondisi intoleransi pada saat Ramadhan di Kota Serang.
Menurutnya, puasa tidak hanya tentang ibadah kepada Allah SWT saja, tapi juga ibadah dari sisi kemanusiaan.
Ahmad Nuri juga menyoroti soal peraturan rumah makan yang ditutup di Kota Serang pada bulan Ramadhan, apakah aturan itu sudah menjelaskan transedental antara manusia dengan tuhan atau mereduksi kebebasan tuhan kepada manusia.
“Puasa menjadi momentum menggugah dimensi sosial kepada orang-orang yang tidak seberuntung dan dari sisi transedental yang privat itu, tawakal dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT,” ujarnya.
Jangan sampai sisi transedental ini menjadi alasan pengekangan dan merusak dimensi kehidupan sosial.
“Harusnya umat Islam menampilkan Ramadhan sebagai agama yang berkah kepada agama lain dan ada kebahagian, bukan hal yang menakutkan bagi agama lain,” ungkap Nuri.
Narasumber kedua, Hottua Mujiyanto menceritakan bahwa selama ini dirinya yang merupakan pemeluk agama Katolik tidak merasakan momok menakutkan selama Ramadhan.
“Saya rasakan selama dari kecil, sebetulnya tidak ada hal yang jadi momok yang menakutkan selama Ramadhan,” ungkap pria yang akrab disapa Ucok ini.
Menurutnya, provokasi media sosial justru yang merusak dan mencoreng toleransi.
Ucok juga bercerita di agama yang ia anut adanya puasa yakni lebih kepada menahan diri, menahan nafsu dan belajar mengolah diri.
Narasumber ketiga diisi oleh Gus Ginanjar Sya’ban yang menjelaskan bahwa isu toleransi bukan hanya ada di Indonesia.
Isu toleransi juga menyeruak di negara-negara muslim lainnya.
Padahal, ia menjelaskan adanya agama Islam hadir sebagai rahmat dan untuk menyatukan dunia dengan kehidupan persaudaraan.
“Misi Agama Islam adalah menyatukan dunia dengan kehidupan persaudaraan,” ungkap Pria yang merupakan peraih Santri Award 2021 sekaligus Filolog Islam Nusantara tersebut.
Gus Ginanjar juga memberikan contoh seperti kehidupan di Mesir.
Disana, Islam dan penganut Kristen Koptik begitu kuat bersaudara, bahkan, gereja koptik mengadakan buka puasa Ramadhan bersama.
BANTENLINE.COM, – Fauzan Fadel Muhammad menggelar acara Halal Bihalal Keluarga Besar KADIN Provinsi Gorontalo yang…
BANTENLINE.COM, – Dalam upaya memperkuat ekosistem bisnis di Provinsi Gorontalo, Fauzan Fadel Muhammad, salah satu…
BANTENLINE.COM PANDEGLANG – Pengurus Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kecamatan Mandalawangi menggelar kegiatan Pendidikan dan Pelatihan…
BANTENLINE.COM, JAKARTA - Sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama, BRI Branch Office…
BANTENLINE, JAKARTA – Pengadilan Negeri Jakarta Timur telah menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Armando Herdian dalam…
Serang, 8 April 2026 – Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Provinsi…