Akhir tahun 2019 menjadi awal ditemukannya pandemi Covid-19 yang telah terkonfirmasi oleh 216 negara di dunia hingga bulan Agustus 2020 akibat terjangkit virus corona (Covid-19) ini. Virus corona ini untuk pertama kalinya ditemukan di negara China tepatnya pada kota Wuhan yang mulai menyebar ke berbagai negara di dunia, salah satunya Indonesia.
Pada awal bulan Maret, virus corona (Covid-19) berhasil ditemukan di Indonesia. Tepat pada hari Senin, 02 Maret 2020 Presiden Joko widodo mengumumkan suatu informasi bahwa telah ditemukan dua pasien positif Covid-19. Sejak saat itu kasus penyebaran Covid-19 di Indonesia terus menyebar hingga saat ini telah memiliki kasus sebanyak 563.680 jiwa (KawalCOVID19.id). Dalam hal ini, pemerintah Indonesia membentuk suatu kebijakan untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 dengan membentuk kebijakan untuk menghindari tempat keramaian, harus selalu berjaga jarak (Study From Home) antar satu individu dengan yang lain, dan menerapkan kebijakan untuk WFH serta melakukan pembelajaran dari rumah (SFH). Berbagai upaya yang telah dilakukan tersebut tentu memberikan dampak untuk berbagai pihak.
Kebijakan tersebut diberlakukan guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di wilayah Indonesia. Hal ini ternyata berdampak pada berbagai aktivitas termasuk diantaranya aktivitas belajar mengajar. Pemerintah telah menetapkan kebijakan belajar dari rumah atau biasa disingkat BDR melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 yang berisikan bahwa pembelajaran harus dilakukan secara SFH supaya Corona Virus Desease (Covid-19) dapat dicegah penyebarannya.
(Karnawati & Mardiharto, 2020). Dalam kajian penelitian ini kami mengambil dampak permasalahan yang terjadi akibat menerapkan pembelajaran SFH dengan memberikan solusi pada jenjang pendidikan anak usia dini.
Adanya kebijakan SFH ( Study From Home ), akibat wabah COVID-19 menyebabkan berubahnya system pembelajaran yang diterapkan pada setiap lembaga pendidikan, salah satunya pendidikan non formal Anak Usia Dini (PAUD). System pembelajaran yang biasanya dilaksanakan dengan tatap muka secara langsung, namun sekarang dilaksanakan dengan system jarak jauh. Dari segi metode hingga sarana pembelajaran tentunya mengalami perubahan yang signifikan demi menyesuaikan kondisi SFH (Study From Home) walaupun dengan segala keterbatasan yang ada , yang berjalan tidak seperti biasanya. Perubahan system pembelajaran ini membuat Guru (tenaga pendidik) mencari strategi-strategi pembelajaran sebagai upaya untuk menghidupkan motivasi belajar anak. Upaya tersebut tentunya harus sesuai dan berjalan efektif bila diterapkan pada jenjang PAUD.
Bentuk strategi untuk pendidikan pembelajaran anak usia dini (PAUD) di masa pandemi:
1).Guru ( Tenaga Pendidik)
Kebijakan SFH ( Study From Home), membuat para guru di jenjang PAUD diharapkan segera beradaptasi. Pembelajaran yang biasanya dilakukan tatap muka kini harus dilakukan belajar secara jarak jauh dengan menggunakan Teknologi Informasi. Dengan platform pembelajaran yang baru Guru PAUD harus memiliki kemampuan dan keterampilan mengoperasikan Teknologi tersebut, merencakan pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan yang masih sesuai dengan kurikulum pendidikan.
2).Orang tua murid
Peran orang tua saat pembelajaran SFH ini sangat diharapkan untuk bisa mendampingi ketika anak belajar atau turut belajar bersama anak. Orang tua bisa membimbing, mengarahkan bahkan bisa mendidik anaknya menggantikan peran guru yang biasanya mengajar di sekolah. Orang tua bisa membuat laporan perkembangan belajar anak, agar jika terdapat hal yang menghambat dalam proses pembelajaran dapat dikomunikasikan dan ditemukan solusi pemecahannya. Orang tua diharapkan untuk memberikan dukungan spiritual-emotional kepada anak. Agar dapat menciptakan pembelajaran yang efektif guna mencapai tujuan pembelajaran yang optimal.
Mengenai pembelajaran berbasis permainan edukasi ini yaitu hiburan edukasi di masa pandemi untuk anak usia dini (PAUD) berfungsi untuk mengasah daya pikir dan logika yang dapat memperkenalkan materi dengan cara yang lebih menarik untuk diterima dan dipahami terutama oleh anak yang masih dini. Anak usia dini antara umur 0-6 tahun berada dalam masa Golden Periode ( periode keemasan ) perkembangan otak mereka. Dalam usia ini anak-anak berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat baik fisik maupun mental. Anak usia dini belajar dengan caranya sendiri. Adapun aspek perkembangan anak usia dini yaitu sspek motorik, kognitif, bahasa, sosial dan perkembangan emosi. Adanya kemajuan perkembangan Teknologi Informasi membuat pembelajaran berbasis hiburan edukasi dapat dilakukan, salah satunya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan situs Rumah belajar yang hadir sebagai inovasi pembelajaran. Kemendikbud berinovasi menghadirkan rumah belajar dalam suatu program di televisi (TV) dan game edukasi. Sebuah media pembelajaran berbasis game edukasi bermain sambil belajar untuk mendukung pembelajaran. Hal ini juga menjadi salah satu alternatif agar anak tidak mudah bosan saat belajar.
Penulis : Siti Nurfauziaturohmah
BANTENLINE.COM, – Fauzan Fadel Muhammad menggelar acara Halal Bihalal Keluarga Besar KADIN Provinsi Gorontalo yang…
BANTENLINE.COM, – Dalam upaya memperkuat ekosistem bisnis di Provinsi Gorontalo, Fauzan Fadel Muhammad, salah satu…
BANTENLINE.COM PANDEGLANG – Pengurus Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kecamatan Mandalawangi menggelar kegiatan Pendidikan dan Pelatihan…
BANTENLINE.COM, JAKARTA - Sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama, BRI Branch Office…
BANTENLINE, JAKARTA – Pengadilan Negeri Jakarta Timur telah menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Armando Herdian dalam…
Serang, 8 April 2026 – Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Provinsi…