Oleh : Taufik Rohmatul Insan
BANTENLINE.COM | OPINI – Siapa yang tak mengenal KH. Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa dengan nama Gusdur presiden RI ke 4, sikapnya yang begitu toleran, demokratis, pluralis, dan humanis, Gusdur juga disebut sebagai Bapak Pluralisme dan Bapak Toleransi di Indonesia. Meski tidak jarang beliau justru mendapatkan perlawanan atas pemikiran-pemikirannya yang kontroversial.
Namun jika dipahami secara luas, bahwa tak lain keinginan beliau hanyalah persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Terlebih Indonesia merupakan Negara yang majemuk. Akan tetapi, bukan itu alasan saya memilih sosok Gusdur, melainkan karena kisahnya tentang Tahun Baru Imlek dan Tradisi Barongsai bagi warga Tionghoa di Indonesia.
Dilaporkan dalam JIBI/Bisnis Indonesia Weekend, 2016, Selama kurun 19681999, perayaan Tahun Baru Imlek dilarang dirayakan di depan. Rezim Orde Baru melalui Inpres Nomor 14/1967 melarang segala hal yang berbau Tionghoa, termasuk Imlek.
Namun, setelah cucu pendiri Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Asy’ari itu menjadi orang nomor satu di negeri ini, Gusdur mencabut Inpres tersebut. Sejak tahun itulah (1999), masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapat kebebasannya untuk merayakan Imlek.
Menurut Gusdur, Imlek dan tradisi Barongsai merupakan bagian dari kebudayaan. Jika dikelola dengan baik dan benar dapat menjadi sarana untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan bukti keragaman.
Berbagai kebudayaan yang melekat pada warga Tionghoa, seperti Barongsai dipertontonkan di khalayak ramai dan hingga kini banyak dikenal masyarakat. Di sinilah salah satu letak keistimewaan sosok Gusdur, ia tidak mau menciderai nilai-nilai Pancasila dan melukai perasaan sesama warga Indonesia.
Bagi saya, sikap dan keputusan Gusdur mencerminkan bahwa ia tidak hanya seseorang yang dikenal Agamis, Nasionalis dan sederhana, tetapi ia juga mampu mengaplikasikan nilai-nilai kesetaraan serta peduli terhadap sesama. Pangkatnya sebagai seorang Presiden, tidak menutup jiwa kemanusiaannya untuk tetap peduli terhadap sesama yang walaupun mereka berbeda suku, agama, bahasa, dan sebagainya.
Karena itu saya sangat yakin Gusdur tentu paham betul bahwa ketidakpedulian terhadap sesama dan budaya yang ada merupakan akar perpecahan dan kemunduran bagi setiap bangsa.
Pagar Nusa dan Cinta NKRI
Pagar Nusa (PN) sejak didirikan pada 3 Januari 1986 M dengan Ketua Umum pertamanya adalah KH. Abdulloh Maksum Jauhari, memiliki spirit tinggi untuk peduli terhadap pelestarian budaya pencak silat yang berkembang di masyarakat luas.
Tidak lain tujuan utamanya menyatukan persepsi dan tujuan bersama dengan melalui pembentukan wadah bagi sejumlah perguruan silat yang majemuk dan mandiri, terkhusus dalam tubuh organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU).
Kelahirannya merupakan capaian besar bagi penyelamatan identitas bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang kaya akan tradisi dan budaya selain dari pada keragaman suku, bahasa, dan lain sebagainya.
Dengan salah satu jargonnya “NKRI sampai mati,” Pagar Nusa yang kini lebih dikenal dengan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (PSNU) Pagar Nusa, konsisten menjunjung nilai-nilai NKRI melalui pengembangan seni, budaya, tradisi, olahraga pencak silat, pengobatan alternatif, dan pengabdian kepada masyarakat.
Selain dari pada itu, Pagar Nusa juga ikut serta membangun peradaban bangsa dengan cara terus mengawal para Alim-ulama dalam melakukan aktivitasnya menebarkan kebaikan dan keramahtamahan Islam di lingkungan masyarakat.
Jika melihat kembali apa yang sudah Gusdur lakukan terhadap Warga Tionghoa dan Tradisi Barongsainya, Pagar Nusa pun memiliki spirit yang sama dalam menjaga tradisi bangsa sendiri tanpa perlu memandang perbedaan perguruan silat atau perbedaan lainnya yang berpotensi akan memecah belah kesatuan dan persatuan hidup bernegara.
BANTENLINE COM PANDEGLANG - Perpustakaan Puspa Smart Desa Batubantar resmi meluncurkan layanan koleksi digital bagi…
BANTENLINE.COM, - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Kota Jakarta Utara mendukung upaya percepatan terwujudnya…
BANTENLINE, WASHINGTON DC – Keikutsertaan Indonesia dalam Rim of the Pacific Exercise (RIMPAC) 2026 menjadi…
BANTENLINE, WASHINGTON, D.C. — Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menyampaikan bahwa…
BANTENLINE.COM, Jakarta – realme, brand Pilihannya Anak Muda, hari ini resmi meluncurkan realme P4 Series…
BANTENLINE.COM, - Pembentukan Holding Logistik BUMN dengan PT Multi Terminal Indonesia (MTI) sebagai surviving entity…